Hheeehhh…geregetan…!

Sekian kali melihat sekian kali pula merasa geregetan. Sering melihat seseorang dewasa berjalan di tepi jalan raya bersama anak kecil. Dan ternyata tidak jarang si dewasa ini tidak memperhatikan posisi antara dirinya dan si anak ini. Entah karena tidak tahu atau memang karena tidak merasa adanya potensi bahaya, si anak kecil dibiarkan pada posisi luar (dekat lalu lalang kendaraan) walaupun dalam keadaan digandeng.  Seharusnya, seaman apapun jalan raya itu, si dewasa harus tetap waspada, posisikan si kecil di sebelah dalam.

Demikian juga posisi menyeberang, tidak jarang si kecil berada dalam posisi terdekat dengan arah kendaraan di jalur yang akan diseberangi. Lindungilah mereka dengan berpindah posisi, tergantung dari arah mana kendaraan nantinya. Mungkin bagi teman-teman yang mempunyai penjaga bagi si kecil, jangan lupa untuk mengingatkan. Sepertinya sepele, namun potensi bahayanya sangat luar biasa.

Soal Open Book Melatih Anak Berpikir Cerdas

Dikutip dari: http://www.sdit-insanmandiri.net

Ditulis oleh Munif Chatib

Rabu, 11 November 2009 11:48
Biasanya untuk mengukur kemampuan kognitif anak kita terhadap bidang studi, alat ukurnya adalah tes. Kalau nilai hasil tes baik, maka anak kita dianggap ‘pinter’ atau ‘pandai’. Sebaliknya jika hasilnya rendah atau jelek, dia dianggap kurang mampu, lebih kasar lagi diistilahkan ‘bodoh’. Berdasar hal di atas akhirnya ‘tes’ menjadi makhluk yang amat penting dalam keberhasilan anak-anak kita. Lebih jauh berkenalan dengan ‘tes’, ternyata sangat beragam keberadaannya.

KONTEN TES

Menurut kontennya, tes mempunyai kelas-kelas. Kelas paling rendah adalah ‘pengetahuan’. Ciri-ciri tes pada kelas ‘pengetahuan’ antara lain biasanya isi tesnya membutuhkan jawaban hafalan. Biasanya jawabannya tunggal, tidak memberi kesempatan jawaban yang lebih luas. Dan instruksi yang sering digunakan adalah ‘multiple choice’, atau ‘benar dan salah’.

Kelas kedua adalah tes ‘pemahaman’. Pada tes ini mulai anak kita diminta menjelaskan dengan bahasanya sendiri, atau memberikan contoh-contoh. Anak kita diasah untuk mampu membandingkan (menunjukkan persamaan dan perbedaan), mengidentifikasi karakteristik, mengeneralisasi, dan menyimpulkan.

Kelas ketiga adalah tes ‘aplikasi’. Anak kita diminta mampu menceritakan sebuah kondisi yang terjadi. Anak kita diminta menjelaskan manfaat dari sebuah masalah, apabila masalah itu mampu diceritakan. Anak kita mampu menerapkan rumus, dalil atau prinsip terhadap kasus-kasus nyata yang terjadi di lapangan.

Kelas keempat adalah kelas ‘analisa’ yaitu mengasah kemampuan mengklasifikasi, menggolongkan, memerinci, mengurai suatu obyek.

Kelas kelima adalah kelas ‘sintesa’, yaitu soal yang mengasah kemampuan memadukan berbagai unsur atau komponen, menyusun, membentuk bangunan, mengarang, melukis, menggambar dan sebagainya.

Kelas keenam adalah kelas kelas ‘evaluasi’ yaitu soal yang mencakup kemampuan menilai (judgement) terhadap obyek studi menggunakan kriteria tertentu.

CARA MENJAWAB TES

Secara praktis, proses menjawab tes dibagi menjadi 2, yaitu CLOSING BOOK dan OPEN BOOK. Tes yang dilakukan dengan CLOSING BOOK ternyata mempunyai dampak-dampak sebagai berikut:
• Memberikan kondisi psikologis bahwa tes itu sangat parsial, yaitu hanya selembar kertas yang isinya ada sebuah pertanyaan yang harus di jawab. Bukan berparadigma tes itu adalah maslah keseharian dalam hidup yang harus diselesaikan.
• Memberi peluang besar untuk konten tes atau soalnya pada kualitas tes pada kelas rendah, yaitu kelas terendah ‘pengetahuan’.
• Menghilangkan daya analisa dan sintesa anak-anak kita. Sehingga pola perilaku anak kita yang terbangun akan sangat pragmatis dan robotik.
• Melahirkan hasil-hasil yang bias terhadap kemampuan anak kita sebenarnya.
• Memperbesar kesempatan anak kita tidak jujur, sebab dengan closing book dan muatan soal yang 5 W (Who, What, When, Why, Where) anak kita cenderung mencontoh atau membuka buku saat ujian (‘ngerpek’).

Berbeda dengan OPEN BOOK, anak-anak kita akan mengalami banyak hal yang positif, antgara lain:
• Membawa dampak positif bahwa anak akan diberi masalah, bukan soal, sehingga mereka pada menit awal merasa penasaran untuk bisa mnyelesaikan masalahnya.
• Langsung menghindari soal-soal dengan kualitas kelas paling rendah yaitu kelas ‘pengetahuan’
• Mendorong anak-anak berpikir kritis, kreatif dan berpikir tingkat tinggi. Kalau hal ini terus dibiasakan maka anak kita akan cerdas.
• Menjadikan anak kita mencintai membaca buku, sehingga budaya baca akan terpacu terus.

Jika OPEN BOOK ini diterapkan maka tidak akan muncul tes-tes seperti di bawah ini:
• Tahun berapa perang Pangeran Diponegoro?
• Siapkah yang menculik Soekarno menjelang kemerdekaan?
• Di kota manakah nabi Muhammad di lahirkan?
• Sebutkan lapisan-lapisan atmosfir bumi?
• Sebutkan alat-alat pencernaan makanan?
• Dan lain-lain

Soal-soal yang menantang dengan OPEN BOOK, antara lain:
• Jika lambung seseorang itu sakit tidak bisa bekerja, apa yang terjadi dengan makanan kita?
• Apa yang anda lakukan jika di sekolah anda terjadi gempa bumi?
• Dan lain-lain

Finlandia adalah negara dengan kualitas pendidikan yang terbaik di seluruh dunia. Di sana setiap guru jika melakukan tes, semuanya dengan cara OPEN BOOK. Dan hasilnya luar biasa.
Dengan membaca artikel ini, saya mengharap pada semuan teman-teman guru untuk memberanikan diri membuat sosal tes yang dikerjakan oleh siswa secara OPEN BOOK. Insyaallah akan banyak keajaiban dan anak didik ktia akan tumbuh menjadi manusia yang cerdas.

Multiple Intelligence Research (MIR)

Tadi pagi kami menghadiri acara Orientasi Orang Tua Siswa Baru SDIT Insan Mandiri tempat Hafid akan menempuh pendidikan dasarnya. Dalam acara yang berlangsung singkat dan padat tersebut, kami diberikan penjelasan oleh Direktur  Pendidikan Yayasan Rahmatan Lil’Alamin, Bapak Karim Santoso, S.Pd, M.Si, tentang salah satu metode penilaian kepribadian seorang anak yang mungkin masih sangat jarang diterapkan secara umum. Nama metode tersebut adalah Multiple Intelligence Research (MIR).

Metode inilah yang dipakai oleh SDIT Insan Mandiri untuk mengenal para calon anak didiknya. Dalam metode yang diperkenalkan oleh Howard Gardner ini, ditemukan bahwa setiap anak pasti mempunyai potensi, tinggal bagaimana lingkungannya menggali bakat, spesialisasi, dan profesinya nanti. Bakat, spesialisasi, dan profesinya nanti akan terungkap dengan sendirinya melalui kebiasaan atau perilaku anak yang sering dilakukan berulang-ulang. Potensi anak ini bisa dikategorikan menjadi kecerdasan bahasa, gerak, musik, gambar, angka, alam, bergaul atau kecerdasan diri. Dari sanalah sekolah akan mencoba menemukan “cara” apakah yang paling tepat untuk setiap individu, karena individu A bisa saja kecerdasan terbesarnya adalah musik, sedangkan B adalah bahasa, dan seterusnya.

Yang membuat kami terharu adalah komitmen yang disepakati oleh pihak sekolah pada saat menerima calon murid baru, yaitu pendaftar pertama yang mendaftar sampai dengan batas waktu yang telah ditetapkan pasti akan diterima menjadi murid SDIT Insan Mandiri. Tidak ada pendaftaran gelombang II dan seterusnya. Satu hal yang dipegang teguh oleh pihak sekolah dalam menetapkan kebijakan tersebut adalah setiap anak pasti mempunyai kelebihan (berdasarkan metode MIR tadi), seorang anak hanya digali berdasarkan potensi pribadi bukan berdasarkan perbandingan antara satu anak dengan anak yang lain.  Subhanallah, suatu metode penilaian yang luar biasa, kalau dibandingkan dengan metode lain yang lazim diterapkan dimana seorang anak harus melewati nilai tertentu untuk bisa dikatakan “cerdas” atau memenuhi kualifikasi tertentu untuk diterima di suatu sekolah atau kelompok.

Semoga kami mendapatkan sekolah yang tepat untuk Hafid, sekolah yang mempunyai semangat untuk mengembangkan potensi setiap anak. Tidak heran jika sampai dengan Semester I TA 2008/2009 kemarin (6 tahun sejak sekolah berdiri), prestasi yang diraih SDIT Insan Mandiri di tingkat internasional sampai dengan tingkat wilayah hingga membuahkan 257 piala dan piagam. Selamat belajar anakku, selamat berkarya bapak-bapak dan ibu-ibu guru SDIT Insan Mandiri, semoga rahmat Allah SWT selalu terlimpah untuk kita semua, amin…

Les Renang Anak

Bulan lalu tercetus keinginan untuk kembali aktif berenang untuk seluruh keluarga setelah sekitar dua tahun absen dengan berbagai alasan. Menurut psikolog sekolah sih renang bagus banget buat ngontrol emosi anak. Wah, boleh juga idenya.

Aida dan Risa sih udah bisa gaya katak, tapi Risa masih belum terlalu pede kalau dilepas sendiri. Inilah yang membuat kami selalu was-was pas ada pelajaran renang di sekolah, khawatir…namanya anak-anak sudah beberapa kali diingatkan tetap deh kalau sudah bercanda nggak ingat situasi dan kondisi sekitar…

Dulu sih pernah les renang di Ragunan, lalu diterusin di Sumantri Kuningan, semuanya dengan guru dari tempat renangnya tersebut, tapi gurunya hanya bisa Sabtu sore. Yah terpaksa hunting guru lain karena pinginnya Minggu sore. Setelah cari sana-sini dapat juga di internet http://www.akademi-renang.com. Deal untuk belajar renang 3 orang secara privat (karena kelas regulernya jam kerja). Akhirnya mulailah aktifitas rutin berenang setiap Minggu sore di Sumantri Kuningan.

Alhamdulillah, anak-anak menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Baru 4 kali latihan Aida dan Risa sudah menguasai gaya katak, gaya bebas, dan mulai belajar gaya kupu-kupu. Sedangkan khusus Hafid yang penting berani di dalam air sudah cukup dulu. Yah, semoga dengan menguasai beberapa gerakan kami tidak terlalu merasa khawatir lagi bila mereka berenang tanpa pengawasan.

Puasa Pertama Hafid

Alhamdulillah, kemarin Hafid sudah mulai belajar puasa. Saat bangun untuk sahur masih harus dengan penuh perjuangan, segala macam cara harus dilakukan hehe.. (termasuk membangunkan kakak-kakaknya, ternyata sama saja). Setelah bangun, untung ada Eko Patrio di RCTI, jadi bisa membuat dia melek dan terbahak-bahak. Begitu melihat mangkok yang biasa digunakan untuk makan, langsung protes berluncuran dari mulutnya, seakan-akan hilang sudah penjelasan yang kami coba utarakan jauh hari sebelumnya (mungkin karena dia belum pernah mengalami, jadi Hafid seakan-akan tetap nggak ngeh apa yang akan terjadi di bulan puasa). “Kok makan sih, ini kan malem..” Ya sudah, terpaksa harus diulangi lagi penjelasan tentang puasa yang makan dan minumnya dialihkan ke malam hari. Tidak berhenti sampai di situ, beberapa ada pertanyaan lagi yang harus dijawab.

Sayangnya aku tidak bisa mendampinginya melalui pengalaman puasa hari pertamanya ini. Terima kasih untuk Mbak Erna yang dengan sangat sabar dan telatennya menjaga Hafid. Kata Mbak Erna, seharian Hafid rewel banget, pertanda nggak kuat nahan lapar dan haus. Namun selalu hilang setelah dibujuk dan dialihkan perhatiannya. Akhirnya sempat minum air putih sekali. Dan yang lucu, beberapa kali minta gosok gigi (alih-alih ngilangin haus, karena kalau gosok gigi selama ini selalu diminum semua baik pasta gigi -yang aman bila tertelan- maupun air kumurnya). Semuanya kami maklumi, puasa tentu merupakan hal yang sangat berat bagi Hafid yang tidak pernah mau diam, apalagi terbiasa makan 4 kali sehari. Antara tega dan tidak tega sih, melihat perjuangannya kemarin, tapi mengingat dulu Aida dan Risa saat TK kelas A sudah belajar puasa, kayanya justru Hafid yang agak telat belajarnya. Semoga hari ini dan seterusnya Hafid bisa tahan terus puasa sampai Maghrib seperti kemarin (yah, bolong-bolong dikit okelah hehe..). Ya Allah, berikanlah kemudahan bagi anak-anak kami dalam proses pembelajaran mereka, amin ya rabbal alamin..

Romadhon Telah Datang Anakku

Dikutip dari Haniina edisi 004/1997

Persiapan Puasa bagi Anak-anak

Bulan Romadhon adalah bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam. Bulan utama dibandingkan bulan-bulan yang lain. Dalam bulan inilah Allah Azza wa Jalla memberikan berbagai keberkahan dan kemudahan. Inilah syahrul mubarokah (bulan berkah) karena merupakan bulan yang penuh berkah. 10 hari pertama Allah SWT mengucurkan rahmatnya (sehingga juga disebut syahrur rahmat/bulan penuh rahmat), 10 hari kedua Allah SWT memberikan maghfirohNya (ampunanNya) sehingga bisa disebut syahrul maghfiroh/bulan pengampunan, 10 hari ketiga Allah SWT memelihara manusia dari siksa api neraka. Di salah satu malamnya, Allah adakan Lailatul Qodar. Pahala sunnah (ibadah yang disunnahkan) sama pahalanya dengan ibadah wajib. Sedangkan pahala wajib dilipatgandakan menjadi 70 kali lipat.

Seolah-olah Allah hamparkan beragam kesempatan dan tinggallah kita sebagai hambaNya mau atau tidak mereguk dan meraih semua bentuk kasih sayang Allah tersebut. Bagi hamba Allah yang dengan segala keikhlasan dan kesadarannya, ia akan peroleh janji Allah. Dan bagi sebagian hamba Allah yang lupa maka mereka tidak akan temui keberkahan bulan ini. Jadilah bulan Romadhon sekarang berlalu seperti Romadhon yang lalu. Waktu terus berlalu, umurpun bertambah serta duniapun semakin tua untuk ditinggali. Allahu Akbar!

Bulan Romadhon pun juga sering disebut syahrut tarbiyah/bulan training. Kita dilatih untuk tidak makan, minum, dan menahan hawa nafsu sejak fajar hingga terbenam matahari. Bahkan kita ditraining untuk tidak manja dengan suasana musim. Karena bulan Romadhon kadang datang di berbagai musim yang berbeda. Umat Islam juga tidak diperbudak oleh kebiasaan. Karena dapat berlatih menahan hawa nafsu buruk (marah, bohong, menyakiti orang lain). Syahruth-tha’at (bulan taat) sebutan lainnya. Bulan melatih ketaatan kepada perintah dan larangan Allah. Yang terakhir sebutannya adalah syahrul A-Qur’an (bulan Al-Qur’an) bulan dimana awal turunnya Al-Qur’an. Pedoman hidup, cahaya penerang, obat/penyembuh penyakit dan sebagai pembeda antara yang hak/benar dengan yang batil/buruk-salah.

Begitu banyak manfaat dan keutamaan bulan Romadhon sehingga Rasulullah SAW dan para sahabat mempersiapkan diri dengan serius. Ada masa warming upnya. Dua bulan sebelum bulan Romadhon yaitu bulan Rajab dan Sya’ban, para sahabat dan para ulama telah melatih diri dengan memperbanyak shoum/puasa sunnah. Semangat berinfaq dan beribadah semakin mengental dalam kehidupan sehari-hari.

Ibarat lampu teplok, di bulan Rajab semprong lampu dan tempat minyaknya dibersihkan dan di bulan Sya’ban diisi dengan minyak, sumbunya diganti sehingga ketika bulan Romadhon datang lampu teplok bisa menyala dengan baik dan lama. Dengan kata lain, harus ada warming up dan persiapan luar dalam.

Apa yang perlu kita siapkan? Pertama, mungkin mempersiapkan fisik/jasad. Yaitu kalau punya penyakit berobatlah, latihan shoum sunnah. Rumah harus dibersihkan, dicat. Bahkan lantainya bukan hanya dipel tapi disikat. Juga berbelanja sebaiknya dilakukan sebelum Romadhon terutama yang tahan lama. Untuk persiapkan ruhiyah, sebaiknya kita mulai melatih bangun malam (qiyamulail – sholat tahajud) agar tidak kesiangan bangun sahur. Sesudah sholat subuh diusahakan untuk memegang dan mambaca Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum memegang yang lain. Mulailah kita belajar kembali mengenal pelafan huruf-huruf Al-Qur’an. Semakin lancar dalam membaca Al-Qur’an tentulah semakin mudah untuk berinteraksi dengan pedoman hidup kaum muslimin tersebut.

Menjauhkan diri dari kebiasaan yang bernilai syirik/menduakan Allah SWT. Juga saling memaafkan dari segala kesalahan sesama manusia. Terutama kepada orang tua, suami/istri, anak dan khodimah/pembantu tumah tangga dan kemudian kerabat serta handai tolan. Secara sederhana begitulah gambaran yang perlu kita persiapkan.

Tapi, bagaimana dengan anak-anak kita? Apakah yang perlu kita kerjakan dan persiapkan buat mereka ketika Romadhon menjelang? Apakah sudah kita (orang tua) mengetahui perkembangan terakhir fisik dan emosi si anak? Ataukah selama ini kita lebih sibuk mempersiapkan sesuatu buat anak yang berkaitan dengan lebaran semata? Ataukah (mudah-mudahan tidak) selama ini kita tidak pernah memikirkan untuk mensosialisasikan suasana shoum kepada sang anak?

Membiasakan Anak Shoum/Puasa Sejak Dini

Anak yang sholih dan sholihah adalah aset yang berarti bagi kedua orang tuanya, bagi ummat maupun bagi masa depan Islam. Ummat Islam membutuhkan generasi yang berdaya guna, yang terus berprestasi menyempurnakan bangunan Islam. Anak yang sholih dan sholihah adalah anak-anak yang sejak usia dini jiwanya dipenuhi dengan bimbingan keimanan. Anak sejak usia dini ditempa dengan akhlaqul karimah (akhlak yang baik). Yang makan dengan makanan halalan thoyyiban (halal dan baik), menerapkan pola hidup sehat dengan berolah raga dan hidup bersih. Yang akalnya diasah dengan ilmu yang berguna untuk dunia dan akhirat. Yang tumbuh dengan bi’ah sholihah (lingkungan yang sholih). Dan tentu saja anak yang sholih dan sholihah adalah anak-anak yang diusianya dini telah diakrabkan dengan aktivitas ibadah ilaLloh (kepada Allah).

Allah Maha Besar dan Maha Mengetahui. Maka didatangkanlah kepada manusia satu bulan yang luar biasa. Bulan Romadhon. Bulan yang baik bagi pengkondisian pembentukan anak yang sholih dan sholihah. Ini merupakan kesempatan baik untuk lebih dekat pada anak dan mensyiarkan/menyebarkan misi Rasulullah saw.

Kata Rasulullah saw bersabda: ”Ajarilah anak-anakmu sholat pada usia 7 tahun dan pukullah pada usia 10 tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya.” Abdullah Nashih ’Ulwan, seorang ulama pakar pendidikan dalam bukunya Tarbiatul aulad fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam) mengatakan bahwa perintah mengajar sholat ini dapat disamakan untuk ibadah lainnya seperti shoum. Proses pelatihan ini dapat saja dimulai lebih dini (kurang dari 7 tahun). Begitu pula jika kita lihat kisah para sahabat Rasulullah saw yang melatih anak-anaknya shoum hingga mereka perlu memboyongnya ke mesjid dan dihibur dengan mainan dari bulu bila anak-anak tersebut merengek minta makan. Meski hal ini tidak mendapat ketegasan dari Rasulullah berupa anjuran atau pelarangan tetapi tetap dapat dijadikan sebagai contoh betapa para sahabat sangat serius mendidik anak mereka beribadah dengan metode pembiasaan anak sejak dini dengan kegiatan ibadah.

Kaidah Melatih Anak Shoum

Dalam mendidik anak shoum di usia dini ini ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus terutama oleh pendidik dalam hal ini ibu dan bapak.

Pertama, anak-anak khususnya balita masih dalam proses tumbuh kembang. Supaya diperhatikan agar proses shoum tidak mengabaikan suatu kenyataan bahwa anak-anak terutama balita harus diperhatikan kebutuhan gizi dan tidur selama pelatihan berlangsung. Karena bila diabaikan kegiatan pelatihan ini bukan lagi bernama pendidikan tapi penganiayaan (pendzaliman) anak-anak yang dapat berakibat mengganggu proses tumbuh kembangnya.

Kedua, harus dipahami bahwa kegiatan ini adalah sebuah pelatihan, pengkondisian, pembiasaan, dan penyiapan anak agar akrab dengan aktifitas ibadah. Bukan sesuatu yang final sehingga kebijaksanaan yang diterapkan harus tetap fleksibel tergantung pada keadaan anak, umur, fisik, dan psikologisnya. Pendidik sebaiknya tidak menyarankan untuk shoum sampai jam tertentu, tapi bisa dilihat dan dicek sesuai dengan keadaan anak.

Ketiga, pendidik sebaiknya bersungguh-sungguh dalam niat dan azamnya (tekad) menerapkan pelatihan ini semata-mata karena Allah Azza wa Jalla bukan karena agar tidak malu bila ditanya teman: apakah balitanya shoum? Atau dapat berapa hari shoum anaknya?

Keempat, pendidik juga sebaiknya meluangkan waktu yang cukup untuk menemani anak dan memprioritaskan pelatihan shoum ini dibandingkan kegiatan lain.

Kiat Mendidik Anak Shoum Sejak Dini

Persiapan

Pertama, persiapan-ruhiyah. Anak-anak yang akan disertakan dalam pelatihan hendaknya dipersiapkan ruhiyahnya. Mulailah dengan menjelaskan kepada anak apa itu shoum secara santai dan pelan-pelan sesuai kondisinya. Sebaiknya tidak mengatakan kepada anak ’tidak boleh makan’ tapi gunakan istilah ’makannya di malam hari dan siangnya ditahan’. Sehingga tidak terkesan mengerikan bagi anak. Ditambah dengan cerita-cerita seputar Romadhon tentang pahala yang dilipatgandakan, kisah aktivitas Rasulullah dan para sahabat selama Romadhon, tentang lailatul qodar dan cerita lain yang sesuai dengan gambaran Al-Qur’an dan Hadits. Pendidik juga bisa bisa secara nyata dan langsung mensosialisasikan (sudah menggembar-gemborkan sebelumnya) dengan menanyakan siapa yang mau shoum disambung dengan siapa yang mau ikut makan sahur dan sholat tarawih.

Kedua, persiapan fisik. Pastikan anak-anak dalam kondisi prima pada awal Romadhon, bila perlu lakukan check kesehatan. Rumah pun perlu disiapkan untuk menyambut Romadhon. Berbelanjalah keperluan buka dan sahur (tentunya tetap berpatokan pada kesederhanaan dan tidak boros) juga bahan-bahan mentah yang awet untuk persiapan membuat kue lebaran. Baju lebaran pun sebaiknya dibeli sebelum Romadhon tiba selain untuk menggembirakan anak dan memotivasi anak untuk bersemangat dalam melaksanakan shoum. Karena setelah selesai satu bulan shoum boleh pakai baju baru juga menghindari kelelahan ibu karena belanja di saat shoum.

Ketiga, persiapan akal. Anak diakrabkan dengan hadits Shummu tashihuu (Shoumlah niscaya kalian akan sehat). Perlunya menerangkan bahwa alat pencernaan makanan dalam tubuh manusia makanan dalam tubuh manusia (pabrik penggilingan makanan) memerlukan waktu istirahat. Karena dia pun bisa lelah. Atau cerita sederhana yang lain, yang dapat dipahami akalnya bahwa shoum dianjurkan. Untuk lebih memudahkan kerja ada baiknya para orang tua melihatkan alat-alat pencernaan manusia melalui gambar atau bentuk lain yang menarik perhatian anak. Kalau memungkinkan terangkan pula beberapa masalah-masalah darurat yang menyebabkan orang boleh membatalkan puasanya.

Atau cobalah cara yang ini. Bawalah anak-anak silaturrahmi ke kantor untuk melihat orang yang bekerja di kantor juga shoum dengan menunjukkan tidak adanya gelas di mejanya. Atau ke tempat umum lain yang bisa mengesankan suasana puasa. Kalau memang ada waktu luang, ada baiknya memotivasi anak dengan melakukan ifthor (berbuka) bersama di masjid, panti asuhan, dan lain-lainnya. Suasana ini akan membekas pada perkembangan emosi si anak. Apalagi sebagai orang tua, kita dapat menjelaskan secara menarik perjalanan dan tempat yang telah dikunjungi.

Pelaksanaan

Pertama, mambangunkan sahur.

Bangun sahur adalah permasalahan terbesar bagi anak dan mungkin juga kita. Tentulah ada beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan agar tidak memberikan kesan trauma pada si anak. Sebaiknya tidak membangunkan anak dengan mengatakan “Ayo bangun makan sahur”. Atau hindarilah membuat suasana bangun pada sahur tersebut seperti suasana yang serba terburu-buru dan tegang. Tapi siapkan dulu makanan/minuman kesukaan anak dan bangunkan dengan menyebut makanan kesukaannya. “Kakak Zahara, pepayanya sudah siap, bangun yuk” atau “Bang Kamal air sirop, air madu dan teh manisnya sudah siap, yuk diminum.” Atau “Mas Adji sholeh, manisan mangganya sudah ibu siapkan, yuk dicobain…”

Ketika anak sudah bangun maka berikan terlebih dahulu makanan dan minuman kesukaannya. Makanan pokok untuk sahur sebaiknya dipotong-potong kecil-kecil (daging, sosis halal, ikan tongkol, dll) atau dalam bentuk fillet/diiris tipis-tipis. Makanan sahur harus disiasati yang tidak susah menggigitnya dan langsung kunyah sebentar dan mudah ditelan.

Jangan lupa juga sediakan telor rebus dan segelas susu terutama ketika anak sulit dibangunkan dan adzan subuh sudah dekat. Bisa juga menyediakan jus buah kental masukkan dalam botol dan simpan di lemari pendingin. Ketika anak bangun beri anak jus buah yang sudah dicairkan dengan air hangat. Minum jus buah akan membuat anak menjadi lebih segar dan intake/pemasukan cairan ke dalam tubuh anak lebih banyak tanpa disadari anak untuk menghindari dehidrasi (kekurangan cairan yang berbahaya bagi kesehatan anak). Kadang-kadang sahur dengan nasi terus menerus bosan, bisa diganti dengan kentang goreng ala fried chicken yang terkenal atau roti, siomay, bakso, yang penting gizi bisa masuk ke tubuh anak.

Kedua, saat shoum.

Bapak, Ibu, dan keluarga yang sudah besar lainnya diharapkan bekerja sama menjadikan rumah bersuasana puasa dengan tidak meletakkan makanan di tempat terbuka. Anak-anak akan tahu dengan sendirinya, bahwa ada yang berubah di rumah ketika pagi dan siang hari.

Tidak ada yang makan di depan anak yang menjadi peserta pelatihan, termasuk tidak menyuapi adik dihadapan para peserta.

Menjauhkan dari teman-teman yang tidak puasa.

Menjelaskan kepada guru bahwa ia puasa, dengan harapan guru maklum dan dapat membantu memberikan dorongan.

Bila anak merengek lapar besarkan hatinya, siapkan stok cerita sebanyak-banyaknya, ajak bermain atau kegiatan kreativitas yang tidak banyak membuang energi.

Siang hari upayakan untuk bisa tidur siang dengan anak sambil sebelumnya bercengkerama di tempat tidur.

Buatlah jadwal imsakiyah khusus untuknya, dengan gambar dan warna-warna yang menarik yang berfungsi pula untuk menghitung telah berapa hari ia shoum. Dan setiap bertambah satu hari balaslah dengan dekapan mesra, ciuman, pujian, atau hadiah sederhana yang dia inginkan.

Tetap waspada dengan situasi dan kondisi anak selama masa pelatihan. Karena bagaimana pun shoum/puasa itu bagi yang dewasa dirasa berat apalagi anak-anak. Meskipun demikian jangan terlalu khawatir dengan keadaan anak. Jika sahurnya cukup air/cairan dan makanan insya Allah anak tidak akan mengalami dehidrasi (kekurangan air) dan kekurangan energi.

Berikan hadiah yang menarik dan bermanfaat di akhir Romadhon sesuai dengan prestasi masing-masing anak. Boleh memberikan hadiah uang untuk menghargai prestasi ibadah shoum anak.

Ketiga, saat berbuka.

Sediakan makanan yang manis-manis terutama korma (3 butir korma sama dengan 2.000 kalori) bisa ditambah kolak dan jus buah. Kadang setelah makan yang manis-manis selera makan nasi dan lauknya jadi berkurang karena sudah terasa kenyang. Siapkan saja makanan untuk anak-anak setelah pulang sholat tarawih – biasanya anak merasa lapar. Atau kurangi kolaknya atau bisa juga disiasati dengan menanyakan kepada anak menu kesukaannya untuk berbuka puasa. Dengan tetap berpatokan pada full gizi dan aman bagi kesehatan (tidak terlalu asam, dingin, dan pedas) dan cukup cairan. Ajaklah anak untuk berpartisipasi menyiapkan acara berbuka.

Perlu juga dipikirkan untuk mengajak anak-anak terbiasa dengan suasana masjid di malam hari bulan Romadhon. Kalau dimungkinkan ajaklah mereka sholat bersama atau ikutkan mereka dalam suasana suka cita di masjid. Biarkan mereka menikmati dan melihat orang-orang asyik berzikir, bertilawah, sujud dan sebagainya. Anak-anak akan mengingat suasana ini sampai ia besar. Dan apabila mereka terbiasa, ini memudahkan kita untuk mensosialisasikan ajaran Allah lainnya.

Penutup

Mengharapkan anak sholih dan sholihah membutuhkan serangkaian rencana, persiapan dan tingkah laku nyata dalam pendidikan selain do’a. Melatih anak shoum sejak dini merupakan salah satu contoh kesungguhan orang tua untuk mewujudkan harapan yang mulia itu.

Menganjurkan anak shoum ibarat menabur benih di sawah yang hasil panennya tidak dapat langsung dan segera diperoleh melainkan melalui proses dan membutuhkan waktu. Peranan orang tua dalam hal ini dibutuhkan dan berpengaruh besar terhadap penghayatan dan pemahaman ibadah shoum pada anak. Adalah sesuatu yang mustahil bila orang tua mengharapkan anaknya taat kepada Allah SWT, sementara orang tua tidak menganjurkan, mengarahkan, dan mencontohkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan semakin besar kesadaran peran orang tua dalam pembentukan kepribadian, konsep diri, citra diri dan penanaman nilai-nilai agama pada diri anak, insya Allah akan semakin besar pula kesungguhan dan kesabaran orang tua dalam mendidik anak. Disertai dengan do’a yang tak kunjung putus dimohonkan kepada Allah semoga akan lahir generasi Islam yang kenyang iman, tinggi ilmu, kuat amalnya, serta luhur budi pekertinya. Amin.

“Ya, Robb kami anugerahkanlah kami isteri-isteri kami sebagai penyenang hari dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Wallahu a’lam bishowab.

Ery Soekresno/Irwan Rinaldi

Sumber/Nara Sumber:

-Wulansari, dra psi. Berpuasa bagi anak-anak dan dampaknya secara psikologis.

-Sri Utami, dra. Kiat mendidik anak shoum sejak dini.

-Nara sumber lainnya.

10 Kiat Menjelang Pagi Hari

Dikutip dari Haniina, Lembaran Orang Tua dan Guru Edisi 002/1996

  1. Untuk mengatasi suasana hiruk pikuk tidak karuan di pagi hari buatlah satu aturan yang baku.
  2. Pagi hari, ibu tidak membangunkan anak dengan nada kesal namun mencoba membangunkan anak dengan kalimat tahlil. Ibu sudah berwudhu dan memakai mukena sementara sajadah sudah digelar. Setiap anggota keluarga tidak perlu mandi dulu yang penting sikat gigi dan berwudhu agar tidak terlambat sholat subuh. Anak laki-laki yang besar langsung sholat di musholla beserta ayah sementara yang kecil sholat dengan ibunya.
  3. Semua anggota keluarga harus mandi dulu sebelum sarapan pagi.
  4. Mencari prioritas seperti mengurangi hal-hal yang membebani anak, misalnya membereskan tempat tidur. Untuk anak yang sudah kelas 3 SD membereskan tempat tidur tentu tidak dirasakan berat jika dibandingkan dengan adiknya yang masih di taman kanak-kanak. Untuk adiknya bisa dilatih membereskan tempat tidur setelah tidur siang dimana waktunya lebih santai dan anak juga rileks mengerjakannya. Pekerjaan-pekerjaan yang dibebankan kepada anak setiap pagi yang dirasa berat oleh anak akan membuat anak membuang-buang waktu dan malas.
  5. Keluarga mempersiapkan segala hal di malam hari semaksimal mungkin. Seperti menyiapkan buku pelajaran sekolah, menyiapkan pakaian seragam, sepatu dan kaos kaki, pakaian olah raga, botol minum dan kue atau makan siang yang akan dibawa sudah siap. Makanan untuk besok pagi hanya perlu dipanaskan dan tidak perlu mengolah dari bahan mentah (terutama untuk ibu yang punya kegiatan lain selain sebagai ibu rumah tangga).
  6. Orang tua juga dapat bekerja sama dengan guru di sekolah jika anaknya banyak santai sehingga terlambat masuk sekolah. Ketika anak datang terlambat, ibu guru dapat menyapa anak dengan ramah, “Aduh Nabila, sayang sekali kamu datang terlambat. Ibu guru baru saja selesai bercerita tentang Panglima Amru bin Ash dan dua merpati yang sedang bertelur dan mengerami di atas tendanya…” Atau, “Ibu guru lihat kamu sering terlambat. Ibu ingin besok dan seterusnya Nabial tidak terlambat datang dan sudah duduk rapi untuk mendengarkan cerita pagi..”
  7. Usahakan aktifitas rutin dan menjemukan menjadi suatu permainan:”Ibu insya Allah yakin kamu akan bisa selesai mandi saat timer ini berbunyi.”
  8. Jangan biarkan anak memberhentikan aktifitasnya secara langsung. Ini akan membuat anak marah. Berilah anak waktu untuk menyelesaikan aktifitasnya. Anak insya Allah akan dengan senang hati mengerjakan kegiatan rutinnya.
  9. Gunakan timer untuk menghentikan kegiatan anak saat mandi, makan, atau kegiatan lain dimana anak senang berlama-lama.
  10. Sekali waktu boleh diskusikan segala permasalahan yang berhubungan dengan kegiatan rutin agar anak merasa bahwa semua jadwal hidupnya tidak selalu ditentukan oleh ibunya namun anak juga faham ada hal-hal tertentu yang anak masih boleh mengusul.

Masalah Klasik Ibu Rumah Tangga Bekerja

Kalau dibandingkan dengan harus mikirin pekerjaan kantor yang paling rumit, ternyata masih lebih pusing kalau harus ngalami pembantu pulang!! Dan ternyata hari ini terjadi padaku hikhik… Mau cuti sudah tidak mungkin lagi karena baru saja aku ambil cutiku ketika Aida ujian nasional kemarin. Yah, segala cara akhirnya harus dilakukan, bangun jauh lebih awal, langsung turun ke dapur, dst dst dst. Memang mungkin ini sangat ringan untuk para ibu pada umumnya, terbayang dulu ibuku yang sangat sukses memerankan ibu rumah tangga yang baik. Tapi entah mengapa, kalau tidak terbiasa pasti menjadi hal yang berat.

Untungnya, sekarang kalau sedang tidak ada pembantu memang tidak terlalu terasa berat, anak-anak sudah besar, mungkin hanya tinggal memikirkan Hafid saja. Dulu pernah aku hampir memutuskan untuk berhenti bekerja karena merasa tidak sanggup kalau harus berada di rumah dan kantor sekaligus, pasti keteteran semua. Untunglah semua berlalu melalui kerja sama kami berdua. Yah, semoga hari-hari ini juga akan terasa ringan. Namun yang membuatku bingung adalah, aku harus ke luar kota selama 4 hari mulai besok, dan yang lebih parah, Risa ujian akhir semester mulai hari Rabu. Apa jadinya ya kalau pembantu belum balik lagi.. yah, pasrah deh..

Merencanakan Harta Untuk Anak

Sebagian dari Anda yang membaca judul di atas mungkin heran, kok kayaknya judulnya bombastis sekali. Betul, kan? Merencanakan harta untuk anak berarti Anda melakukan perencanaan mengenai harta apa saja yang akan Anda berikan untuk anak Anda kelak. Entah ketika dia sudah dewasa atau saat menikah.

Contohnya sederhana saja: banyak orangtua yang memberikan kendaraan untuk anak mereka yang sudah masuk masa kuliah atau sekolah. Alasannya tentu dengan mobil atau motor, perjalanan ke kampus jadi lancar.

Mungkin Anda berpikir, jangankan harta untuk anak, harta untuk diri sendiri saja tidak banyak. Jadi, buat apa direncanakan segala? Jangan salah paham dulu Bapak Ibu. Yang namanya harta itu tidak selalu harus mahal seperti kendaraan atau rumah. Bisa berupa perhiasan, perabotan atau uang tunai. Uang dengan jumlah tertentu mungkin bagi Anda tidak banyak, tapi bagi anak akan bermakna lain. Yang namanya harta juga bukan berarti selalu materi. Bisa juga non materi. Contohnya, pendidikan.

Jadi sudahkah merencanakan harta untuk anak Anda? Mungkin untuk non materi, hampir semuanya sudah, ya. Bagaimana dengan perencanaan harta yang sifatnya materi? Nah, kalau Anda belum menyiapkan, coba deh dari sekarang diniatkan. Apa saja yang akan Anda siapkan untuk anak Anda. Mulai dari kapan akan menyediakan kendaraan untuknya, apakah Anda akan memberikan uang tunai ketika dia menikah nanti, atau apakah Anda akan membelikannya rumah kelak.

Satu hal yang harus diingat, dalam mempersiapkan harta bagi anak, terutama yang sifatnya materi, tidak ada yang salah atau benar. Artinya, tidak ada keharusan bahwa Anda sebagai orangtua harus membelikannya ini atau itu, karena itu semua betul-betul sangat bergantung dari situasi dan kondisi Anda masing-masing.

Tapi ada pepatah menarik, “uang tidak dibawa mati”. Jadi kenapa Anda tidak mulai merencanakan untuk memberikan anak Anda sebagian dari harta Anda? Entah harta yang sudah Anda miliki sekarang, atau harta yang mungkin Anda siapkan khusus untuknya. Jangan lupa kalau Anda mau mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari, maka biasanya beban Anda akan jauh lebih ringan. Jadi, kenapa Anda tidak mempersiapkan harta itu sejak sekarang?

SIAPKAN TABUNGAN UNTUK ANAK

HARTA yang bisa disiapkan untuk anak, sekarang maupun nanti:

Harta yang bisa Diberikan Sekarang:

  1. Komputer. Kenapa harus komputer? Iya-lah, dengan belajar komputer sejak dini, paling tidak anak Anda akan punya keterampilan berkomputer yang bisa sangat bermanfaat ketika dia besar nanti. Biarkan saja kalau anak Anda sering main game. Game itu bagian dari kreativitas, kok.

Harta yang bisa diberikan nanti, tapi bisa disiapkan sejak sekarang:

  1. Uang Tunai. Dengan menabungkan uang tunai bagi anak, paling tidak Anda sudah mempersiapkan diri kalau-kalau si anak mengalami kondisi darurat yang membutuhkan uang tunai kelak. Plus lagi, uang tunai sering diberikan orangtua bagi anaknya yang baru saja menikah lho. Yah, minimal Anda siapkan sajalah. Kalaupun anak Anda bisa mengumpulkan uang tunai sendiri, ya syukur. Kalau tidak bisa, Anda toh bisa membantunya kan karena dana Anda sudah ada? Bukan begitu?
  2. Kendaraan. Kendaraan bisa Anda berikan kepada anak pada sekitar usia SMU. Jangan lupa, dengan memberikan kendaraan, Anda bisa melatihnya tanggung jawab dalam merawat kendaraan. Mungkin di awal dia tidak terlalu pintar dalam merawat kendaraannya. Tapi dimana-mana orang butuh latihan kan? Kalau bukan Anda yang melatihnya terlebih dulu, siapa lagi?
  3. Rumah. Tidak ada salahnya Anda juga mempersiapkan tabungan untuk persiapannya membeli rumah ketika sudah menikah nanti. Hanya saja perlu diingat bahwa menabung untuk rumah tidak selalu mudah dilakukan, mengingat sebagian dari Anda sendiri mungkin juga belum memiliki rumah sendiri sekarang. Tapi ingat, rumah adalah sesuatu yang bisa diwariskan. Dan dengan mempersiapkan dana untuk membeli rumah bagi anak, paling tidak Anda sudah mempersiapkan diri ketika kelak anak Anda menikah dan belum mampu memiliki rumah sendiri. Tapi ingat, jangan janjikan apa-apa ke anak Anda, sampai Anda rasa dia memang betul-betul tidak bisa membeli rumah sendiri. Kalau Anda janjikan rumah dari sekarang, wah, Anda tidak mendidik dia dong.

Safir Senduk
Perencana Keuangan
Sumber Tabloid NOVA No. 866/XVI

Menemani Anak di Dunia Maya

Salah satu kekhawatiran terbesar yang dirasakan orangtua terhadap anak-anaknya yang bermain internet adalah adanya informasi yang bersifat pornografi. Informasi tersebut bisa berupa gambar, animasi, video klip, cerita, maupun iklan-iklan. Kekhawatiran ini wajar mengingat banyaknya situs dewasa yang secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan mempromosikan statusnya. Promosi tersebut kadang-kadang bahkan lewat banner pada situs-situs umum, semacam situs layanan e-mail gratis, atau attachment pada e-mail.

Menyikapi kekhawatiran semacam ini, perlukah anak-anak dilarang bermain internet sampai pada umur tertentu? Kalau di rumah sudah dilarang, bagaimana kalau mereka pergi ke warung internet? Jawabannya tergantung pada kondisi setiap keluarga.

Prinsipnya, orangtua memang harus mengawasi anak-anak dari pornografi, tetapi bagaimana cara yang tepat agar anak-anak mengerti maksud baik orangtua sehingga mereka dapat menjaga dirinya sendiri. Peran orangtua sangat penting dalam memberi pengertian kepada anak-anak tentang baik buruknya internet.

Ok sekarang kita bertumpu pada arus globalisasi yang tak pernah bisa dihindari dan internet merupakan salah satu media globalisasi yang susah dihindari. Masa kanak-kanak bagusnya digunakan buat belajar (termasuk belajar internet) mengenal internet, mengeksplorasi dunia maya.

Parlemen Eropa pekan lalu mengeluarkan proposal pembuatan domain baru, kid. Domain ini diharapkan bisa membantu memberi navigasi kepada anak-anak agar aman mengarungi dunia internet. Domai kid dikhususkan untuk situs berisi konten anak-anak. Situs ini secara reguler nantinya akan dimonitor badan independen. Dengan demikian, diharap anak-anak yang mengarungi dunia internet terjamin keamanannya.

Gagasan domain khusus situs anak ini muncul demi tujuan memberi tingkat keamanan tinggi kepada anak-anak yang kerap bersentuhan dengan konten internet berisi kekerasan dan pornografi. Cara lain yang dipandang perlu dalam mengamankan anak-anak dari bahaya dampak buruk internet adalah registrasi ketika akses. Saat masuk internet, orangtua akan ditawari filter yang user friendly yang bisa mengakses 260 juta situs berkonten pornografi.

Sekarang waktunya, penyedia jasa internet menawarkan kepada orangtua, filter otomatis untuk membantu anak-anak, ujar pembuat gagasan dari Parlemen Eropa, Marielle de Sancez. Wajar jika pergulatan menyelamatkan anak-anak dari dampak buruk internet makin gencar. Hasil studi Uni Eropa menunjukkan, satu dari tiga anak yang berselancar di dunia maya terkena pengaruh konten kekerasan dan pornografi internet.

Berikut tips bagi orangtua yang memiliki anak dengan rasa ingin yang tinggi:

  1. Pastikan anak-anak aman dari hal-hal yang tidak semestinya mereka terima ketika bermain internet. Anak-anak zaman sekarang sudah bisa berdialog dengan orang asing lewat internet. Baik melalui fasilitas chatting atau instant messaging seperti Yahoo Messenger. Anda bisa memberi tahu agar mereka jangan mengungkap identitas dengan jujur ketika chatting.
  2. Berkomunikasilah secara reguler dengan anak-anak. Berdialoglah, sesekali bantu mereka mengerjakan PR. Sekali anda lepas, mereka bisa melampiaskan dengan segala sesuatu hal yang negatif yang ada di internet.
  3. Jangan menempatkan komputer di kamar anak. Tempatkan di area publik seperti ruangan keluarga. Dengan begitu anda bisa mengontrol jika mereka sedang bermain internet. Banyak orang tua berpikir, sudah membantu anaknya dengan memberi mereka komputer dan koneksi internet. Padahal dampak yang diharapkan bisa saja terbalik.
  4. Pilihkan alamat email anak anda. Namun jika mereka chatting atau bermain instant messaging, jangan beri nama yang seksi karena bisa mengundang orang yang berniat buruk. Ingat, banyak predator di internet yang akan membujuk anak-anak dengan nama online seperti remajaseksi2008 atau cewek manis.

www.surya.co.id

Lindungi Anak Remaja Anda dari Kesalahan Penggunaan Kartu Kredit

Pada saat Tino berusia 19 tahun dan baru memasuki tahun pertama kuliah, dia memperoleh kartu kreditnya yang pertama. Pada saat itu sebenarnya, saya tidak membutuhkannya, tapi karena kemudahan persyaratan serta mendapatkan berbagai hadiah langsung, membuat saya mengisi formulir kartu kredit tersebut. Beberapa bulan kemudian saya dikirimi kembali formulir kartu kredit, saya mengisinya dan saya kembali mendapatkan kartu kredit.

Tino menggunakan kartu kreditnya untuk berbagai kebutuhan dan keinginannya dan membayar tagihan tepat waktu walau membayarnya tidak lunas (mencicil). Yang tidak dipahami oleh Tino adalah dengan membayar minimum pembayaran yang mana hanya menutupi bunganya saja dan tidak banyak berpengaruh terhadap sisa saldo tagihannya. Dengan kemudahan ini membuat Tino mengambil keputusan pembelian tanpa banyak pikir panjang dan membicarakannya dengan orang tuanya.

Tanpa terasa, sisa saldo yang tadinya sedikit, meningkat tajam, yang mengakibatkan dia kesulitan untuk dapat membayar walau hanya cicilan minimumnya. Lama-kelamaan saldonya terus meningkat dan pada saat dimana dia tidak lagi sanggup untuk membayar cicilan minimumnya, dia baru membicarakannya kepada kedua orang tuanya.

Dengan kabar ini, Ibu Anis (ibu dari Tino) merasa frustasi. Pada saat Anda mengirimkan anak Anda untuk kuliah, Anda memberikan banyak nasihat, jangan banyak main, belajar yang benar dan rajin beribadah, tapi Anda lupa untuk membicarakan hal terpenting dalam hal keuangannya yaitu penggunaan kartu kredit.

Untuk itu dalam pembahasan kali ini, kami melihat pentingnya pembelajaran dan diskusi seputar kartu kredit bagi anak-anak remaja anda.

Langkah Pertama

Sudahkah Anda membicarakan perihal kartu kredit dengan anak-anak? Bila belum, sebaiknya Anda mulai mendiskusikannya. Walau remaja masih belum memiliki track record dan sedikit atau tidak memiliki pemasukan regular, perusahaan yang mengeluarkan kartu kredit tetap menargetkan mereka sebagai pemilik baru.

Bila anak remaja Anda gagal membayar tagiahan minimum bulanan yang diharuskan, Anda sebagai orang tua seperti halnya orang tua lainnya harus mengambil keputusan yang berat yaitu membayar lunas atau mencicil tagihan anak remaja Anda.

Apa yang menyebabakan trend kartu kredit berkembang di pasar remaja? Ada beberapa hal yang perusahaan kartu kredit ketahui mengenai pasar anak-anak muda (remaja) dan sudah seharusnya anda sebagai orang tua mengetahuinya.

1. Loyalitas. Pasar kartu kredit bagi orang dewasa semakin tinggi kompetisinya. Dan kebanyakan dari mereka tetap loyal terhadap kartu kredit yang dimilikinya sejak awal, walau dengan berbagai penawaran keuntungan tambahan. Dengan menargetkan pasar remaja, perusahaan mendapatkan nasabah yang lebih muda dan berharap tetap menjadi nasabah sampai mereka mulai bekerja.

2. Persyaratan yang lebih mudah bagi remaja. Dibandingkan dengan orang dewasa yang bekerja, anak remaja akan lebih dipermudah dalam persyaratan kepemilikan kartu kredit. Mengapa? Para perusahaan tersebut memahami bahwa sebagai besar orang tua setelah membayar biaya kuliah yang mahal akan membayar hutang kartu kredit yang dimiliki oleh anak-anak remajanya. Walau Anda memiliki pilihan untuk tidak membayarnya, namun dengan tidak membayar lunas hutang kartu kredit anaknya akan mengakibatkan kesulitan bagi anak tersebut di masa datang untuk memperoleh kredit misalkna untuk pembelian mobil atau rumahnya.

3. Remaja mudah terbuai dengan hadiah. Terkadang hanya dengan hadiah kecil seperti kaos atau mug, klien remaja terbujuk untuk mengisi formulir pendaftaran kepemilikan kartu kredit.

4. Remaja terkadang masih kurang tanggung jawabnya dalam hal prilaku keuangan. Dalam hal ini terkadang karena kurangnya pengetahuan dan kebiasaan keuangan yang baik, keuangan remaja bisa saja runtuh. Belanja berlebihan, walau membayar tagihan tepa waktu tapi hanya minimum pembayaran, tanpa disadari saldo hutang kartu kreditnya akan meningkat drastis dalam tahun-tahun mendatang.

5. Sampai saat masih sedikit sekali sekolah yang mengajarkan tentang keuangan personal khususnya kartu kredit. Bila Anda tidak mengajarkan dan memperkenalkan keuangan personal atau yang lebih khusus lagi kartu kredit maka Anda akan melihat bahwa anak Anda mungkin akan belajar dari promosi atau iklan yang mungkin menyesatkan. Sekolah sampai saat ini masih belum bisa di harapkan untuk dapat terlibat dalam pembelajaran keuangan personal.

Jadi apa yang harus dilakukan Anda sebagai orang tua? Kebanyakan orang tua bingung apa yang harus dikatakan atau didiskusikan dengan anak-anak remajanya mengenai kartu kredit. Untuk itu dalam pembahsan berikut akan kita lihat aspek apa saja yang sebaiknya diinformasikan kepada mereka.

Bila saat ini anak remaja Anda sudah terlilit hutang kartu kredit, akan lebih baik bila anda menyelesaikannya dan memberikan informasi yang jelas mengenai hal tersebut. Akan lebih baik bila anda melunasinya sekali dan membangun prilaku dan pandangan baru kepada anak Anda seputar kartu kredit.

Langkah Kedua

Memiliki kartu kredit bagi abak remaja Anda akan membangun kredit histori bagi mereka namum kembali lagi sisi buruknya bila mereka menggunakannya tanpa tanggung jawab dan berlebihan. Untuk itu, ikuti 10 pelajaran berikut ini untuk mempersiapkan anak remaja Anda untuk lebih bertanggung jawab dan berprilaku yang lebih baik mengenai keuangannya.

1. Tunjukkan bagaimana Anda membayar tagihan kartu kredit Anda. Untuk beberapa bulan ada baiknya bila Anda menunjukkan total tagihan keluarga dan bagaimana Anda membayarnya. Biarkan anak Anda melihatnya. Dengan begitu mereka akan belajar untuk menganggarkan dan membayar dengan bijak.

2. Ajarkan anak Anda mengenai anggaran. Dalam hal keuangan personal, anggaran atau pengeluaran yang dilakukan menjadi sangat penting. Berapa yang bisa Anda belanjakan atau berapa yang anda alokasikan untuk belanja merupakan penggunaan yang bisa Anda bayarkan dengan kartu kredit. dengan begitu, bila tagihan datang, Anda dapat membayarnya dengan lunas.

3. Dalam masa kuliah, batasi kepemilikan hanya satu kartu kredit saja. Manfaatkan kemudahan persyaratan yang ditujukan untuk remaja. Tapi ingat jangan menambah kartu baru lagi. Bila Anda ingin memiliki kartu kedua (dimana dua kartu menurut kami sudah cukup) maka Anda dapat mengajukannya pada saat anak Anda mulai bekerja.

4. Batasi limit kartu kredit hanya untuk kebutuhan emergensi.

5. Tentukan apa yang termasuk dalam kebutuhan emergensi atau tidak. Katakan kepada mereka jangan menggunakan kartu kredit hanya untuk bersenang-senang dengan teman di cafe. Tanpa disadari, yang tadinya tagihannya hanya Rp.500 ribu bisa saja meningkat menjadi jutaan karena bunga dan penalti.

6. Jangan pernah meminjamkan kartu kredit kepada orang lain.

7. Tanda tangani kartu kredit secepatnya. Bila anak Anda sudah mendapatkan kartu kreditnya, tanda tangani secepatnya dibalik kartu. Jangan tunda. Hal ini bisa mengurangi pencuri untuk menggunakan kartu kredit anak Anda.

8. Nasihati anak Anda untuk menyimpan strok pembayaran. Hal ini sangat penting bila terjadi kesalahan dalam tagihan bulanan yang dikirimkan oleh perusahaan. Dengan begitu Anda dapat mengklaim kesalahan tersebut. Bila strok pembayaran tidak lagi dibutuhkan, sobek dan buang sehingga tidak ada orang yang bisa memanfaatkan nomer kartu Anda.

9. Dorong anak Anda untuk membayar tagihan bulanan secara lunas. Banyak kartu kredit yang hanya mengharuskan Anda membayar 5% dari total tagihan bulanan. Untuk jangka pendek mungkin terdengar sangat murah. Namun dalam jangka panjang, Anda bisa tertimbun oleh hutang yang tak berkesudahan.

10. Jelaskan mengenai bunga dan penalti yang berlaku di kartu kredit. Saat ini rata-rata bunga kartu kredit sangat tinggi sekitar 3% perbulan. Bila dibungakan majemuk bisa lebih dari 40% pertahunnya. Demikian juga dengan pinalti keterlambatan pembayaran. Hindari pengambilan tunai dari ATM dengan kartu kredit Anda, karena beban bunga yang lebih tinggi ditambah biaya transaksi yang cukup besar, sekitar 3% dari pengambilan tunai.

Langkah ketiga

Untuk lebih mengetahui kondisi keuangan anak remaja Anda berkaitan dengan kartu kredit, ada beberapa indikasi yang bisa dilihat bilamana mereka terlilit atau bermasalah dengan hutang kartu kreditnya:

  1. Mereka membayar kurang dari keharusan minimum pembayaran.
  2. Meminjam dari kartu kredit yang satu untuk membayar yang lain.
  3. Mulai terlambat untuk membayar tagihan wala hanya miminumnya saja.

Menunda untuk menyelesaikan tagihan yang tersisa bilamana perusahaan kartu kredit tersebut mengharapkan pembayaran, merupakan kesalahan besar. Perusahaan akan lebih baik bilamana hutangnya masih baru daripa perusahaan tersebut sudah memberikan saldo hutang Anda ke debt collector. Bila Anda berencana untuk menyelesaikan hutang kartu kredit anak Anda, lakukan negosiasi sebelum Anda membayarnya. Dibawah ini ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan:

  1. Negosiasikan untuk nilai yang lebih rendah. Katakan kepada perusahaan kartu kredit bahwa Anda bermaksu untuk melunasi hutang anak Anda dengan kondisi dimana perusahaan menghapus bunga serta pinalti yang mungkin ada selama ini.
  2. Buat perjanjian tertulis berapa saldo tagihan yang disetujui serta pola pembayaran yang diingikan. Dan bila tagihan sudah terlunasi maka tidak ada lagi tindakatan atas anak Anda berkaitan dengan kartu kredit tersebut.
  3. Lakukan pembayaran dengan regular atau sekaligus. Dan setelah hutang tersebut terbayar lunas, maka Anda harus melihat apakah anak Anda masih ditagih oleh perusahaan tersebut, kalau ya maka Anda harus menghubungi mereka kembali.

Demikianlah beberapa langkah yang menurut hemat kami dapat Anda diskusikan dengan anak remaja Anda seputar kartu kredit.

Pembelajaran ini sangat baik dilakukan saat ini, dimana biaya yang harus ditanggung mungkin akan lebih kecil dibanding bila mereka nanti sudah memasuki masa dewasa atau menikah. Perilaku keuangan yang baik dimulai sejak dini.

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Pemberlakuan Jam Malam untuk Belajar

Kemarin sore saat pulang kantor, aku mendengarkan acara perbincangan di suatu stasiun radio tentang rencana pemberlakuan jam malam untuk belajar bagi para siswa di Kota Bekasi. Rencananya akan diberlakukan mulai tanggal 2 Mei 2008 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Aturannya adalah pada jam 19-21, pada para pelajar harus berada di dalam rumah bersama dengan keluarganya untuk belajar. Bila didapati berada di luar rumah akan ditangkap oleh Satpol PP. Hukumannya yang bersekolah di negeri akan dipindahkan ke swasta. Itu sepintas yang aku dengar.

Banyak komentar mengiringi perbincangan tentang kebijakan Pemkot Bekasi ini, antara lain apakah pemerintah berhak untuk mengatur sampai ke kegiatan keluarga seperti ini, apakah akan dilaksanakan secara konsisten, apakah perlu menerapkan suatu kebijakan hukum padahal seharusnya dikondisikan dengan cara memperbaiki budaya masyarakatnya. Setiap kebijakan pemerintah pasti ada pro kontranya karena tidak akan bisa mewakili kepentingan seluruh golongan masyarakat. Namun, apakah kebijakan ini yang paling tepat untuk diberlakukan di antara berbagai alternatif yang ada, itu yang perlu kita kaji bersama. Apakah pendapat anda?

Pendidikan Anak: Betulkah Sebuah Investasi?

Tak terasa, kini kita sudah mendekati tahun ajaran baru. Tidak bisa dipungkiri bahwa dari tahun ketahun biaya pendidikan semakin mahal. Entah biaya pendidikan di universitas maupun di SD s/d SMU. Jangankan SD s/d SMU, orangtua keponakan saya yang tahun ini masuk TK pun harus merogoh uang yang cukup banyak untuk hanya membayar uang pangkal.

Menariknya, ketika berbicara tentang biaya pendidikan, banyak yang menganggap bahwa pendidikan adalah sebuah investasi. Lho, investasi apa? Ya, investasi. Harapannya, uang yang mereka keluarkan untuk biaya pendidikan si anak kelak akan kembali.

Sekarang, bagaimana dengan Anda? Kalau saat ini Anda adalah orangtua yang sedang berusaha memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak Anda, apakah Anda sendiri juga menganggap bahwa Anda sedang melakukan investasi untuk anak Anda?


Arti Investasi

Apa sih arti investasi itu sendiri? Saya terus terang sering membaca buku-buku keuangan yang luar biasa rumit pembahasannya. Di situ sering diceritakan bahwa investasi adalah begini atau investasi adalah begitu. Tapi sejujurnya, arti investasi buat saya adalah tindakan yang Anda lakukan untuk memperbesar nilai aset yang Anda punya. Contohnya nih, Anda punya uang tunai sebesar Rp 10 juta. Nah, Anda ingin menjadikan Rp 10 juta tersebut menjadi Rp 15 juta dalam waktu 1 tahun. Apa yang akan Anda lakukan? Mungkin memasukkannya ke sejumlah produk investasi. Atau, beberapa orang ada juga yang menggunakan uang Rp 10 juta tersebut menjadi modal usaha. Prinsipnya, diharapkan Anda akan mendapatkan untung Rp 5 juta dari Rp 10 juta tersebut, entah itu dari bunga atau dari pertumbuhan nilai aset itu sendiri.

Perlu diingat bahwa aset itu tidak hanya uang tunai lho. Rumah itu juga aset. Misalnya, Anda punya rumah senilai Rp 100 juta (bangunan + tanah). Anda ingin agar dalam setahun rumah tersebut bisa bernilai Rp 140 juta. Nah, apa yang Anda lakukan agar rumah tersebut tumbuh nilainya adalah sebuah tindakan berinvestasi. Misalnya dengan menambah taman disekililingnya, melakukan renovasi-renovasi kecil, dan lain sebagainya.

Hubungannya dengan Pembayaran Biaya Pendidikan Anak Anda

Lalu, apa hubungannya dengan biaya yang selalu Anda bayarkan setiap tahunnya untuk pendidikan anak Anda? Tergantung bagaimana Anda memandangnya. Apakah Anda berharap dengan membiayai pendidikan anak, kelak biaya hidup Anda akan ditanggung si anak? Anda harus menyadari bahwa pembiayaan pendidikan yang Anda lakukan untuk anak seharusnya memang sudah menjadi konsekuensi Anda sebagai orang tua. Ya kan?

Saran saya, jangan pernah membiayai pendidikan anak tetapi berharap bahwa suatu saat kelak si anak akan memberikan imbalan langsung kepada Anda. Entah anak Anda akan memberikan uang atau membiayai hidup Anda. Sekali-sekali jangan sampai itu terlintas di pikiran Anda, karena ­ sekali lagi ­ pembiayaan pendidikan yang Anda lakukan adalah sebuah kewajiban yang harus Anda lakukan, tanpa Anda perlu berpamrih apa-apa.

Tapi, menurut saya, pendidikan anak sebetulnya tetaplah sebuah investasi. Hasil dari pembiayaan pendidikan yang dilakukan orang tua nantinya akan lebih banyak dinikmati oleh si anak itu sendiri, bukan oleh si orang tua.

Sebagai contoh, bila orangtua membayari pendidikan anaknya, si orang tua boleh berharap bahwa mudah-mudahan saja dengan pendidikannya si anak bisa menjalani kehidupannya sehari-hari dengan baik nantinya ketika kelak ia dewasa. Atau, dengan pendidikan yang baik, diharapkan si anak bisa lebih pandai dalam berpikir, bertindak dan berkomunikasi.

Nah, apabila hasil investasi itu telah dinikmati oleh si anak, maka barulah ­ secara tidak langsung ­ keluarganya juga akan ikut terangkat derajat dan martabatnya. Ya, siapa sih yang tidak bangga bila si anak bisa menyelesaikan pendidikannya dan bisa jadi ‘orang’ serta punya peran di masyarakat? Siapapun pasti bangga. Ya kan?

Jadi, pantaslah bila dikatakan bahwa dengan Anda membayari pendidikan anak Anda, Anda sebetulnya telah melakukan investasi. Bukan investasi yang menghasilkan uang untuk keluarga, tapi investasi untuk menjadikan hidup anak Anda lebih baik, sehingga nantinya itu juga akan mengangkat derajat dan martabat Anda sebagai orang tuanya. Persiapkan biaya pendidikan anak Anda dengan baik sehingga Anda akan selalu punya cukup uang untuk membayari pendidikan anak Anda.

Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 842/XVI

Komentar untuk Acara Sst..Usil Banget Deh

**Postingan ini tidak bermaksud menjelek-jelekkan acara “Sst…usil banget deh” yang diputar di Trans TV setiap malam minggu. Mohon maaf bila ada pihak yang tersinggung.**

Memang mempunyai anak jaman sekarang susah, banyak sekali yang bisa mempengaruhi pola pikir mereka, terutama tayangan televisi. Berbagai sinetron yang memperlihatkan adegan anak yang membentak-bentak orang tua, orang yang selalu berpikiran licik dan jahat, bunuh diri untuk berbagai alasan, perkelahian, saling bunuh, keluarga kaya yang sangat membenci keluarga miskin, perebutan warisan, aduh, tidak tahu berapa banyak lagi yang belum tersebut disini. Efek yang bisa timbul pada anak-anak yang menonton adalah bahwa hal-hal tersebut wajar, di tv saja banyak kok yang begitu. Gawat deh…

Ternyata ada satu lagi tayangan yang membuatku selalu harus mengeluarkan ekstra tenaga untuk melarang anak-anak menonton, walaupun kadang mereka sampai menangis. Menurutku lebih baik mereka menangis daripada harus menonton tanyangan ini. Tayangan acara Sst..Usil Banget Deh memang lucu, bagi orang dewasa dan remaja mungkin tidak akan jadi masalah kalau menontonnya, toh mereka tahu bahwa itu hanya bercanda, hanya lucu-lucuan, gak ada yang salah dengan itu. Namun buat anak sebesar Hafid, adegan-adegan yang ada justru akan menimbulkan ide-ide untuk menjaili orang, yang sebagian besar justru akan sangat berbahaya bila benar-benar mereka lakukan. Akan sangat sulit memberi pengertian pada anak sebesar itu walaupun sudah dengan mendampinginya sepanjang acara. Mungkin ada baiknya acara seperti ini tidak diputar di jam anak-anak kecil biasa menonton. Atau kalau ada di antara pembaca ada ide lain yang bisa menjadi win-win solution silakan share disini, terima kasih.

Memilih Tempat Les untuk Anak

Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 855/XVI

Banyak sekali harapan dan keinginan orang tua terhadap anaknya, khususnya dalam soal pendidikan. Dan harapan ini sudah tertanam sejak awal tahun ajaran baru. Tak heran, setelah anak-anak mulai masuk sekolah, bukan hanya peralatan sekolah yang disiapkan, orang tua juga sibuk mencari tempat les agar anak-anak mereka tidak ketinggalan pelajaran.

Banyak sekali tempat-tempat les yang menawarkan pelajaran tambahan. Mulai dari pelajaran yang biasanya menjadi momok di kelas, seperti Matematika, IPA, Bahasa Ingris, hingga les-les yang berkaitan dengan pengembangan bakat aanak di bidang kesenian.

Inilah yang kadang membuat orang tua kebingungan, mana yang akan dipilih duluan. Bukan hanya itu, orang tua juga bingung mana tempat les yang terbaik buat anak, sehingga ujung-ujungnya uang yang di keluarkan tidak sia-sia. Nah, berikut ini ada beberapa hal yang perlu perhatikan sebelum memilih tempat les buat anak.

  1. Perhatikan kualitasnya
    Mencari tempat les sama pentingnya dengan cari sekolah. Jangan asal murah maka kualitas tempat les tersebut Anda abaikan sama sekali. Seperti kata sebuah iklan motor di televisi: “Boleh murah tapi jangan murahan”. Artinya, selain pertimbangan biaya, pertimbangkan juga kualitasnya. Ya nggak? Kenapa? Karena memang kualitas tempat les buat anak akan menentukan pula bagaimana kemampuan si anak kelak terhadap materi les yang diajarkan kepadanya. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa tahu tempat les itu berkualitas atau tidak?

Ada 3 cara. Pertama, perhatikan kualitas lulusan atau mantan siswa yang pernah belajar di sana. Anda bisa melihat atau menanyakan kepada mereka, bagaimana kualitas tempat les tersebut. Kalau memang kualitas lulusan atau mantan siswanya cukup berprestasi Anda bisa cukup yakin bahwa tempat les tadi cukup baik kualitasnya.

Yang kedua, lihat kemampuan staf pengajarnya. Anda harus memastikan apakah staf pengajarnya memiliki cukup pengetahuan, tahu bagaimana memotivasi siswa dan memahami karakter anak-anak. Yang ketiga adalah metode pendidikan yang ditawarkan. Pastikan bahwa metode pendidikan yang ditawarkan cukup baik. Dengan demikian, uang yang Anda keluarkan tidak akan sia-sia.

  1. Cek lokasinya
    Nah, ini. Masalah lokasi itu cukup penting lho karena bisa berpengaruh banyak terhadap biaya transportasi yang akan Anda keluarkan untuk si anak. Kalau tempat lesnya cukup jauh dari rumah, maka biaya transportasi yang dikeluarkan akan cukup besar, selain ada risiko anak juga akan mengalami kelelahan di perjalanan yang ujung-ujungnya bisa berpengaruh juga kepada penguasaan materinya. Sebagai tambahan, selain biaya transportasi, Anda juga harus mempertimbangkan untuk memberikan sedikit tambahan uang jajan buat si anak selama ia belajar di tempat les.
  2. Lihat lingkungannya
    Lingkungan les pendidikan biasanya akan berbeda dengan lingkungan sekolah karena teman-temannya juga akan berbeda, sehingga sangat penting memang untuk memperhatikan lingkungan tempat les yang akan dimasuki anak. Sebagai contoh, kalau lingkungan tempat les anak Anda berisi anak-anak yang sering jajan, maka ada kecenderungan anak Anda juga akan mengikutinya. Sehingga bisa berakibat si anak menjadi lebih boros dan tidak lagi fokus kepada proses belajarnya, malahan mungkin bisa jadi ia sibuk jajan dan bermain dengan teman-temannya tadi.

Contoh lainnya, ternyata teman-teman les si anak adalah anak-anak yang berperilaku kurang sopan dan nakal. Hal itu tentu sedikit banyak bisa berpengaruh terhadap diri si anak. Kalau ia tidak cocok, maka ia akan cenderung menyendiri. Tetapi kalau ia cocok dan ingin ikut-ikutan, maka ia bisa saja jadi berperilaku seperti teman-temannya tadi. Jadi, sekali lagi, lingkungan belajar yang baik, akan memberikan manfaat yang baik pula bagi anak Anda. Ujung-ujungnya, lagi-lagi, uang yang Anda keluarkan tidak akan sia-sia kalau memang Anda bisa memilih tempat les yang memiliki lingkungan yang baik.

  1. Ajak anak Anda
    Yang akan mengikuti les itu adalah anak Anda, bukan Anda. Karena itu, coba deh ajak dia untuk ikut mengecek tempat-tempat les tersebut sebelum Anda betul-betul memasukkannya ke situ. Sesekali tanyakan padanya apakah ia cocok dengan tempat kursus tersebut. Tanyakan juga padanya apakah ia nyaman dengan lingkungan tempat lesnya. Sebagai tambahan, pastikan juga bahwa ia tidak merasa terpaksa mengikuti les belajar tersebut. Ingat, jangan terlalu memaksakan kehendak Anda pada dirinya. Berusahalah untuk membujuknya dengan cara-cara yang menarik, agar ia juga bisa menikmati proses belajar yang ia jalani.

Nah, Bapak – Ibu, itu tadi beberapa tips dalam memilih tempat les buat anak. Mudah-mudahan, dengan tips-tips tersebut, uang yang Anda keluarkan untuk membayar biaya les mereka jadi lebih berguna dan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh si anak. Salam.

    Kidzania

    Mungkin untuk anak-anak Jakarta berkunjung ke Kidzania sudah merupakan agenda tersendiri. Wajib katanya. Bagus sih konsepnya, di sana mereka dimungkinkan untuk mencoba berbagai macam pekerjaan yang dilakukan oleh orang dewasa, termasuk cara memperoleh uang dengan bekerja dan cara menabung/menggunakan uangnya. Hal yang positif untuk memberikan kepada anak-anak kita gambaran riil tentang suatu profesi. Siapa tahu mereka menemukan cita-citanya di sini. Yah, konsep bagus tentu dibarengi dengan harga yang bagus pula hehe.. Tapi sesuai kok dengan pelayanan yang profesional.

    Sebelum berangkat ke Kidzania, Aida dan Risa udah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk mencari info tentang pembelian tiket, makanan, profesi apa saja yang enak dikunjungi, penjemputan, dll. Sehari sebelumnya mereka sibuk menelpon teman-teman yang sudah pernah ke sana.

    Hari Sabtu pagi jam 9.30 kami berangkat. Sampai di Pacific Place meskipun toko-toko yang lain masih tutup tetapi banyak sekali anak-anak yang sudah datang bersama pendampingnya masing-masing. Bagus juga ada petugas yang berjaga di pintu lift yang menanyai setiap pengunjung yang belum terlihat memegang tiket. Kalau memang belum membeli tiket mereka mengarahkan pengunjung tersebut ke luar gedung dimana didirikan tenda khusus untuk melayani pembelian tiket. Hal ini tentu saja untuk mengurangi penumpukan pembelian tiket di pintu masuk Kidzania.

    Setelah anak-anak masuk, orang tua hanya boleh menunggu di luar sampai sesi pagi ditutup jam 15.00, atau kalau anak yang masuk masih berumur kurang dari 8 tahun bisa didampingi, namun tentu saja pendampingnya pun harus membayar tiket penuh. Ketika jam menunjukkan pukul 15.00, mereka selesai bermain, dan seperti biasa, agenda kami berikutnya adalah mendengarkan cerita anak-anak yang sangat antusias.

    Mereka hanya sempat mencoba 8 macam profesi, salah satunya adalah tukang semir sepatu, karena menurut info teman-temannya, pekerjaan itulah yang sangat mudah dan cepat dilakukan tapi dengan bayaran yang lumayan tinggi. Wah, ini yang perlu diprotes kepada pihak Kidzania. Walaupun franchise, tapi seharusnya mereka lebih mengadaptasi kondisi di sini. Hal ini bisa merusak pandangan anak-anak akan suatu profesi (maaf, bukan bermaksud untuk merendahkan suatu profesi, tapi harusnya lebih realistis). But anyway, lebih banyak nilai positif yang bisa didapat dibandingkan negatifnya, disamping memberikan alternatif baru wahana mainan anak-anak yang memang mempunyai sifat ingin tahu yang sangat besar.

    Koran untuk Anak-anak

    Bahan bacaan untuk anak biasanya berupa majalah atau tabloid mingguan. Namun ternyata ada ide baru yang menyajikan bahan bacaan untuk anak berupa koran yang terbit setiap hari kerja, namanya Koran Berani. Terbit 16 halaman dengan ukuran sebesar majalah. Harga berlangganannya terbilang murah. Isinya variatif mirip dengan koran biasa yang sudah disesuaikan untuk anak-anak, namun disajikan dengan seluruh halaman full color, font tulisan lebih besar, dan tentu saja banyak foto/gambar yang menarik perhatian. Kalau saya perhatikan isinya, sepertinya lebih cocok untuk anak kelas 3 SD sampai dengan SMP. Satu kelebihan dari harian ini adalah setiap hari kerja ada bahan bacaan baru untuk anak-anak dengan biaya yang relatif murah. Terima kasih Koran Berani…

    Menghitung Biaya Pendidikan Anak

    Bermacam teori tentang bagaimana cara menghitung biaya pendidikan anak, namun ada satu cara yang sederhana untuk kita yang ingin mempunyai gambaran kasar perlu biaya berapa masing-masing anak kita kelak.

    Menurut buku Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak karya Safir Senduk, langkah yang perlu kita lakukan adalah:

    1. Cari informasi biaya pendidikan anak anda saat ini. Informasi ini meliputi berapa biaya masuk TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi yang akan kita tuju. Kita cukup memperhitungkan biaya uang pangkalnya saja bila biaya bulanannya masih bisa kita anggap wajar untuk dikategorikan biaya rutin bulanan. Namun bila kita merasa perlu untuk mempersiapkan dana khusus karena biaya bulanan cukup besar maka hal tersebut harus kita masukkan sebagai hitungan total biaya pendidikan yang akan kita persiapkan, misalnya untuk biaya kuliah.

    2. Kalikan dengan asumsi kenaikan biaya pendidikan per tahun sampai dengan anak tersebut masuk sekolah. Anggaplah angka inflasi 10%, maka biaya masuk TK yang saat ini misalnya Rp 5 juta maka pada 4 tahun ke depan akan menjadi: Rp 5 jt x 1,1 x 1,1 x 1,1 x 1,1= Rp 8.052.550,00. Nah biaya inilah yang harus kita persiapkan per masing-masing tingkatan sekolah anak kita.

    Setelah kita menentukan biaya tersebut, maka tinggal kita mencari cara untuk menabung sesuai karakteristik kita dalam berinvestasi, bisa melalui tabungan, deposito, saham, properti, barang-barang koleksi, emas, mata uang asing, reksa dana, ataupun asuransi. Selamat mencoba…

    Pentingnya Cita-Cita

    Banyak pendapat mengatakan bahwa bila kita ingin melakukan sesuatu maka harus kita tetapkan dulu apa target atau tujuan kita. Bahkan ada yang mengatakan bila ingin membeli sepeda misalnya, maka di tempat-tempat yang sering kita lihat kita harus menempelkan gambar sepeda tersebut untuk selalu menguatkan motivasi kita untuk meraihnya.

    Ada suatu contoh yang baik, salah satu presiden Amerika, Bill Clinton, semenjak kuliah dia sudah bercita-cita menjadi presiden. Setiap hari dia selalu menyalami setiap orang yang bertemu dengannya dan mengucapkan saya ingin jadi presiden. Dan ternyata, dengan motivasi yang selalu terasah tajam maka dia berhasil meraih cita-citanya tersebut. Contoh tersebut hanya salah satu dari sekian banyak contoh yang mungkin pernah anda dengar.

    Hal tersebut dapat kita terapkan pula untuk anak-anak kita. Setiap anak kita dorong untuk mempunyai cita-cita, dan bila mereka bingung, kita bantu dengan memberikan gambaran sisi positif dan negatif profesi yang akan mereka pilih tersebut. Bila mereka sudah menentukan pilihan, kita sebagai orang tua harus memberikan penguatan motivasi kepada mereka, dengan banyak cara.

    Selain itu, dengan adanya cita-cita, maka kita menjadi lebih fokus untuk mengarahkan apa saja yang dia harus lakukan atau tempuh untuk meraihnya. Misalnya jenjang pendidikan yang harus ditempuh, persiapan fisik, persiapan mental, persiapan biaya, dan sebagainya.

    Vcd Musik Drum

    Melihat bakat dan minat Hafd yang sangat besar pada permainan drum, kami sempat terpacu juga untuk memoles bakatnya sedini mungkin. Dari mulai umur 2 tahun sudah beberapa kali dia kami ajak ke studio musik untuk sekedar memperkenalkan alat-alat musik dan mencoba bermusik secara live. Tentu saja yang dia pilih hanya drum dan drum lagi.

    Sudah beberapa tempat les pula yang kami hubungi, dan semua menjawab belum bisa bu kalau dibawah 7 tahun, tingginya belum mencukupi karena yang diapakai latihan adalah drum ukuran dewasa. Mau privat sepertinya gak mungkin, sarana dan prasarananya tidak memadai kalau di rumah.

    Yah, sambil menunggu tinggimu mencukupi nanti nak, akhirnya kami sepakat membelikannya drum ukuran anak-anak. Dan untuk mengarahkannya, tentu perlu suatu ekstra pemikiran lagi (kami berdua terus terang tidak ada bakat musik sama sekali, nah lo…jadi siapa yang ditiru ya ni anak?).

    Akhirnya ada satu pemecahan sementara, beli vcd musik yang khusus menampilkan drum. Cari sana-sini, akhirnya kami dapat juga di www.vcdmusik.com. Ternyata dari 2 vcd yang kami beli Hafid sangat suka. Beberapa kali minta diputarkan sambil dia ikuti. Lenganya hatiku, sabar ya sayang, semoga bakatmu akan terus terasah nantinya…