Demi Tugas Negara, Sayang…

Statusku memang PNS yang kata orang “santai, bisa berangkat siang pulang siang, kerjaannya hanya nggosip”, duh, seandainya semua itu benar hehe.. Ternyata kenyataannya, tak jarang aku harus pulang larut malam menjelang pagi. Rapat dengan para pejabat tinggi (hanya sebagai tukang ketik atau asrot-asisten sorot- sih..), menyelesaikan pekerjaan yang deadline, atau ribuan alasan lain. Kadang badan ini tidak bisa diajak kompromi, sering masuk angin, flu, tapi kalau sudah perintah bos ya mau gimana lagi??
Memang sih, biasanya disediakan tempat menginap, tapi kalau masih hitungan Jakarta, aku selalu pulang semalam apapun itu. Hal ini kulakukan semata-mata untuk mengurangi rasa bersalahku pada keluarga yang hanya bisa bertemu pagi hari menjelang berangkat sekolah/kerja atau kalau libur. Hal ini sama sekali bukan untuk tujuan mengejar karir karena toh sampai sekarang aku ini tetap seorang pelaksana..
Alhamdulillah, baik Abang maupun anak-anak sudah bisa menerima kebiasaanku tanpa sedikitpun protes. Memindahkan sekolah anak-anak ke Madina Islamic School adalah salah satu kompromi kami berdua untuk memanfaatkan waktu anak-anak seefektif mungkin dan selama mungkin dalam pengawasan guru, disamping tentu saja kurikulumnya yang sangat memuaskan kami. Terbayang kembali dulu waktu mereka masih di SD Negeri, pulang sekolah jam 12 hanya nonton tv, main, kadang yang membuat hati ini nelangsa sering mereka hanya bengong melamun di depan rumah karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. “Kayak anak ilang” itu kata tetanggaku..
Pernah suatu cerita mampir ke emailku, judulnya adalah Mandikan Aku Bunda. Mungkin anda pernah membacanya, entah apapun reaksi anda dengan cerita itu, namun bagiku sangat dalam artinya. Maafkan ibumu nak, meskipun kuantitas pertemuan kita kurang, semoga kualitasnya bisa selalu menyatukan kita. I love u..

4 thoughts on “Demi Tugas Negara, Sayang…

  1. Wah salut tenan buat mbakku yg satu ini. Disela kesibukanny mengabdi pd negara, ttp bisa jd suami dan ibu yg baik buat kluargany.
    Emg bnr mbak,g smua yg org bilang ttng pns itu bnr.Gak ada pns yg nyantai or nggosip. Paling kan cm ngopi, maen fs or ngenet2 g jls.He2.Itu kan mirip ak.He2.
    Pkke sukses deh buat mb ida, buat keluarga n buat blognya.

    ***Tengkyu om atas tambahan semangatnya…***

  2. He eh, pancen ya ngono mbak resikone nek wong wadon berkarier. Tapi yo tetep perlu dirancang dan dicita-citakan suatu saat sampae pada kondisi ideal sebagai layaknya seorang ibu. Jangankan mbak yg perempuan, aku yg laki aja gak tahan di Jakarta. Pulang2 anak lapor baru tawuran, wah jan. Tapi salut mbak, bisa membawa keluarga dlm kondisi bersama dan tidak saling menuntut. Lha ilmu ini yg mesti ditularkan pada yg laen, terutama bagi yg berkehidupan di Jakarta

    ***Betul mas, semoga apa yang kita kerjakan ini masih diridhoi ya, jadinya tetap membawa berkah bagi keluarga, amin. Aku add ya linknya…, thx***

  3. Betul mbak, rasa bersalah meninggalkan anak-anak itu sering sekali menyesak dada dan membuat hati berontak untuk keluar dari rutinitas dan meluangkan sebanyak-banyak waktu yang kita miliki untuk anak-anak kita. Memang, kuantitas tetap menentukan kualitas tapi jika kuantitas itu tidak bisa kita penuhi, yang terbaik adalah menjaga agar kuantitas yang seadanya itu selalu menjadi tetap berkualitas. ..
    Dan aku yakin anak-anak kita akan memahami semua perjuangan kita ini.
    Tetap semangat ya.

    ***Wah, thx ya mbak atas sharing dan semangatnya…***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s