Mengapa Kita Bertengkar karena Masalah Keuangan?

Dalam membina keluarga yang sakinah dan tenteram harus dibangun dengan kesepahaman akan masalah keuangan. Problem keuangan sangat berkaitan dengan masalah emosi individu di dalam keluarga.

Perbedaan sikap terhadap keuangan bisa menjadi kerikil-kerikil tajam yang bisa merusak ketentraman keuangan keluarga bila tidak diidskusikan secara baik, satu dari Anda adalah pembelanja yang boros sedangkan satunya adalah penabung yang bijak, bagaimana kita dapat menemukan jalur keluar yang mengakomodasi keduanya? Apa yang menyebabkan pertengkaran pada awalnya?

Semua ini bisa saja terjadi dalam keluarga, mungkin saja terjadi saat ini. Oleh karena itu dalam pembahasan kali ini, kami akan mencoba untuk menyampaikan sedikit informasi mengenai hal-hal yang bisa menimbulkan perselisihan keuangan dalam keluarga dan cara atau tindakan yang bisa dilakukan untuk menjembatani masalah ini dengan baik. Dalam mengumpulkan berbagai informasi untuk tulisan ini kami mencoba menggali apa yang menyebabkan terjadi perselisihan dalam keluarga dikarenakan masalah keuangan. Banyak orang mengatakan bahwa kita tidak bertengkar karena masalah uang. Hanyalah kesalahpahaman kecil. Tapi mengapa kesalah pahaman ini bisa terjadi?

Sebagai contoh, pasangan muda ini setuju untuk menyisihkan sebagai dari pendapatan mereka untuk membeli rumah dengan kredit. Tujuan ini adalah prioritas bagi mereka. Berlibur panjang setiap tahun yang tadinya menjadi salah satu kegiatan rutin mereka, mereka tunda dulu karena mereka sangat menginginkan rumah sendiri.

Hobi Pak Sandi sebut saja demikian, adalah bermain golf. Sepulang dari kantor, dipertengahan jalan ia melihat advertising yang mengatakan diskon besar-besar untuk berbagai stick golf terbaru. Tanpa disadari ia meluncur menuju golf shop dan membeli driver baru seharga Rp.3.000.000 (setelah diskon) tanpa berpikir panjang.

Sesampainya di rumah, walau tidak marah, Dita (pasangan Sandi) merasa kebingungan, mengapa ia (Sandi) harus membeli stick tersebut padahal mereka memiliki tujuan untuk menabung guna membeli rumah mereka dan menunda untuk berlibur bersama? Semua ini membuat Dita meresa disisihkan dan kerikil kecil ini bisa menjadi awal dari perselihan yang besar bila tidak disikapi dengan bijak.

Apa sih yang menyebabkan hal ini? Tentunya Anda tau, apa itu? Kurangnya komunikasi antara Sandi dan Dita. Komunikasi dalam keluarga apalagi berkaitan dengan hal keuangan harus dibicarakan dengan baik.

Perselisihan kecil biasanya terjadi karena mereka tidak berada dalam satu tujuan besar, yaitu membangun keluarga bersama-sama. Ternyata dalam hal Sandi dan Dita, Dita merasa bahwa mereka telah sepakat untuk menabung guna membeli rumah sedangkan Sandi tidak dalam tujuan yang sama dengan Dita walau ia sadar bahwa rumah itu penting bagi mereka.

Oleh sebab itu, mengapa komunikasi menjadi sangat penting. Dalam kenyataannya, perselisihan bukan saja terjadi karena penggunaan uang yang tidak disepakati tapi lebih ketidakterbukaan Anda dan pasangan dalam hal keuangan dan ekspektasi masing-masing terhadap tindakan keuangan yang diharapkan.

Karena setiap individu pasti memiliki perspektif keuangan yang berbeda satu dengan yang lain. Mengutarkan pandangan masing-masing mengenai uang menjadi langkah penting dalam membangun keluarga yang terbebas dari perselisihan keuangan.

Dalam sesi konsultasi selama ini, pada umumnya pasangan suami istri memiliki tujuan keuangan yang berbeda satu dengan yang lain. Kalau hal ini tidak dibicarakan secara terbuka, bisa-bisa menumbuhkan kerikil-kerikil tajam dalam keluarga.

Ekspektasi seseorang harusnya dinyatakan secara terbuka dan dengan begitu orang lain atau pasangan Anda dapat melihat dan mempertimbangkan apa yang Anda ekspektasikan pada diri mereka.

Walau banyak aspek yang bisa mengakibatkan timbulnya perselisihan keuangan dalam keluarga, secara garis besar ada tiga aspek yang mendasari semua hal tersebut, pertama komunikasi, kontrol, dan terakhir adalah keluarga.

Komunikasi

Big spender, hal ini berkaitan dengan kebiasaan salah satu anggota dalam keluarga yang sangat merisaukan pasangan yang lain, misalkan yang satu adalah penabung yang bijak sedangkan pasangannya adalah pembelanja yang berlebihan. Hal ini harus dicari jalan keluarnya dengan komunikasi yang baik tanpa menyalahkan satu atau yang lain.

Tidak adanya keterusterangan, salah satu hal yang menyebabkan perselisihan adalah dimana salah satu pasangan mendapatkan tagihan kartu kredit yang bukan main tingginya, mulai dari makan bersama rekan-rekan kantor, membeli driver baru dan hal lainnya—kejutan yang kurang baik. Kejutan seperti ini harus dibicarakan dan diselesaikan dengan baik dan bijak. jangan sampai menimbulkan pertengkaran yang besar di masa mendatang.

Apa yang tetangga miliki, Anda pun harus punya. Misalkan saja tetangga Anda baru saja membeli mobil SUV (Sport Utility Vehicle) terbaru, pasangan Anda juga harus membelinya. Terkadang hal ini bisa menimbulkan serpihan-serpihan perselisihan yang lama kelamaan bisa membesar.

Persoalan hutang. Pernikahan sering kali diawali dengan rasa cinta. Membicarakan masalah uang apalagi hutang menjadi pembicaraan yang tabu, padahal persoalan ini sangat penting untuk dibicarakan. Jangan sampai begitu menikah Anda terkejut dengan semua kebiasaan serta prilaku keuangan pasangan masing-masing.

Kontrol

Sedikit demi sedikit lama menjadi bukit. Pengeluaran yang tidak diikuti dengan program perencanaan yang baik, malah dapat mengakibatkan kerusakan kondisi keuangan. Pengeluaran kecil yang sering kali dilupakan lama-lama bisa sangat besar dan membebani pendapatan keluarga. Jadi perhatikan secara bijak kemana saja pengeluaran yang Anda dan keluarga lakukan setiap bulannya.

“Boss”-lah yang bertanggung jawab. Dalam keluarga yang kurang komunikasi seringkali, satu orang lebih dominan dibanding pasangannya. Hal ini bisa sangat berbahaya. Bilamana terjadi, misalkan rumah bocor, maka pasangannya berharap bahwa “boss”-lah yang harus menyiapkan dana untuk perbaikan, karena ialah “boss”nya.

Keluarga

Pilihan seputar rencana memiliki anak. Tetap bekerja atau menjadi ibu rumah tangga? Menyiapkan biaya pendidikan anak-anak Anda sekarang atau nanti? Semua pilihan atau argumen berkaitan dengan hal ini tidak ada habisnya, sehingga dibutuhkan diskusi keluarga guna menetapkan tujuan bersama.

Mertua atau ipar. Dalam adat ketimuran, keluarga besar bukan hanya keluarga inti, ayah, ibu dan anak-anak, lebih dari itu mertua dan ipar juga termasuk didalamnya. Bila pasangan Anda masih harus menyisihkan sebagai pendapatannya untuk sekolah adiknya atau kebutuhan orang tuanya yang sudah tua, semua ini sebaiknya dijelaskan secara terbuka. Jangan sampai malah mengakibatkan benih-benih pertengkaran di kemudian hari.

Tips dalam berkomunikasi untuk pasangan suami istri

Pertama adalah dengan mencari waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakan perihal keuangan Anda dan keluarga. Bicarakan dalam situasi yang relaks dan santai sehingga masing-masing dalam kondisi kepala yang dingin.

Kedua, mulailah dengan menceritakan kebiasaan Anda dalam berprilaku berkaitan dengan uang, karena setiap individu memiliki prilaku yang berbeda karena dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berbeda. Dan teruskan dengan perilaku dan kebiasaan pasangan Anda.

Setelah itu, jangan pernah beranggapan bahwa apa yang Anda lakukan adalah yang terbaik dan paling benar. Dengarkan apa yang dikatakan oleh pasangan Anda dan pertimbangkan secara masak. Mungkin saja pandangan Anda berdua bertolak belakang, hormati pandangan masing-masing walaupun Anda sebenarnya tidak setuju dengan perilaku atau kebiasaan tersebut.

Keempat, mulailah dengan menentukan tujuan keuangan yang menjadi prioritas bagi Anda berdua. Dan perhitungkan kebutuhan dana untuk mencapai tujuan tersebut. Mulailah menabung secara regular untuk mencapai tujuan keuangan yang diinginkan Anda dan pasangan Anda.

Kelima adalah pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan Anda sebagai istri yang harus membayarnya maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga.

Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Dimana Anda berdua haruslah terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang.

Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasangan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dan yang tersedia tidak mencukupi.

Keenam, kesepakatan dalam hal pengeluaran menjadi sangat vital. Anda berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk mengganti mobil dengan yang baru setelah beberapa tahun? Atau apa yang Anda berdua pikirkan berkenaan dengan liburan?

Sebagai kesimpulan, Anda harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat Anda penuhi.

Ketujuh, jangan pernah menyalahkan pasangan Anda. misalkan pasangan Anda terlilit utang, dari pada Anda marah lebih baik Anda fokus untuk menyelesaikan hal tersebut bersama dengan pasangan Anda. Dengan menagmbil tindakan secara bersama akan mengingatkan Anda bahwa Anda dalam keluarga ini adalah satu.

Kedelapan, cari bantuan atau konsultasikan ke perencana keuangan. Dengan perbedaan pandangan serta kebiasaan keuangan akan bisa teratasi dengan baik bila Anda berkonsultasi dengan orang ketiga yang tentunya memiliki ilmu serta profesionalitas dalam bidang keuangan keluarga.

Bila diawal Anda tidak berhasil, cobalah terus. Mencari kesepakatan dalam hal keuangan memang tidaklah mudah, jangan putus asa teruslah berdiskusi. Ikuti moto kami, berhentilah bertengkar dan terus berdiskusi. Semoga ulasan ini bermanfaat.n

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s