DKI Belum Siap Hadapi UASBN

Sejumlah SD/MI di DKI Jakarta sepertinya belum siap 100 persen menerapkan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) sebagai salah satu penentu kelulusan murid. Buktinya, angka standar minimal keluluasn yang ditetapkan hanya berkisar 3 4,5.

Kepala Sub Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) DKI Jakarta Chandrawaty mengungkapkan, mayoritas SD/MI di DKI Jakarta mengajukan angka 3, 3,5, dan 4 sebagai standar nilai kelulusan. Memang kecil kalau dibandingkan dengan standar nilai kelulusan untuk SMP dan SMA yang 5,25, ujarnya.

Seperti diketahui sebelumnya, dalam penyelenggaraan UASBN, criteria kelulusan ditetapkan masing-masing sekolah/madrasah. Angka yang diputuskan dalam rapat dewan guru itu selanjutnya dilaporkan ke Dinas Pendidikan Dasar untuk dijadikan acuan dalam penghitungan jumlah kelulusan peserta UASBN di masing-masing sekolah.

Kepala Sekolah SDN 10 pagi, Lenteng Agung, Jakarta Selatan Uum Rumsiah menuturkan, pihaknya sengaja menetapkan standar milai rendah agar persentase jumlah lulusan siswa bisa mencapai 100 persen. Lebih baik rendah, daripada nggak lulus, tukasnya.

Menurutnya, angka 4 yang ditetapkan sebagai standar kelulusan murid berdasarkan kesepakatan antara dirinya, para guru, dan orang tua murid. Meski begitu, kata dia, peserta didiknya disiapkan sebaik mungkin dalam menghadapi UASBN.

Selain mengadakan pendalaman materi 3x seminggu, sejumlah try out dan pelatihan soal-soal juga rutin diberikan.

Mengenai rendahnya standar kelulusan yang diajukan SD/MI di wilayahnya, Wakil Kepala Dikdas DKI Jakarta Maman Achdiyat mengatakan tidak akan memberikan sanksi administratif bagi sekolah yang bersangkutan.

Standar nilai kelulusan UASBN menjadi wewenang dan hak sekolah, tegasnya. Namun, tambah dia, ada penilaian tersendiri untuk sekolah dengan standar kelulusan yang rendah. Karena hal itu, menyangkut mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan.

Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Susilahati menilai, rendahnya nilai standar kelulusan itu mengindikasikan kalau UASBN belum saatnya dilaksanakan, masih perlu pengkajian ulang. DKI sebagai representasi dari ibukota yang didukung sarana dan prasarana memadai saja tidak cukup berani menetapkan nilai tinggi. Bagaimana dengan yang di daerah lainnya.

Tetapi berbeda dengan Susilahati, pemerintah sudah bertekad bulat menggelar UASBN serentak pada 13 15 Mei mendatang, dan 21 23 Mei untuk ujian susulan. Ada tiga mapel yang diujikan, yakni Bahasa Indonesia dengan jumlah soal 50, Matematika 40 soal, dan IPA 40 soal. Masing-masing mapel tersebut harus diselesaikan dalam waktu 120 menit.

Sementara untuk soalnya, 25 persen dibuat Badan Standar Nasional Pendidikan dan 75 persennya dibuat tim dari provinsi. Hasil ujian, akan diumumkan selambat-lambatnya di minggu ke 3 bulan Juni 2008.

Dikutip dari Indo Pos, Sabtu, 19 April 2008.

One thought on “DKI Belum Siap Hadapi UASBN

  1. JADI UJIAN NASIONAL UNTUK SD BIBATALKAN TAPI SAYA DI SEKOLAH SUDAH LATIHAN JADI KEPUTUSANYA GEMANA?

    ***Ujian Nasional tetap diadakan seperti jadwal semula. Yang dimaksud DKI tidak siap itu adalah sebagian besar sekolah di DKI menentukan nilai kelulusan yang kecil, karena takut banyak muridnya yang tidak lulus. Ok, selamat belajar ya sayang, tante doakan semoga sukses ya, amin***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s