Kecurangan dalam UASBN SD Tahun 2008

Tulisan ini dikutip dari Surat Pembaca Koran Indo Pos, hari Sabtu, 17 Mei 2008, Halaman 16.

Kehancuran Pendidikan

Saya sangat prihatin dengan perkembangan pendidikan di Republik ini. Mulai tanggal 13 sampai dengan 15 Mei 2008 anak saya mengikuti ujian akhir nasional Sekolah Dasar. Hari pertama mata ajaran yang diujikan Bahasa Indonesia, kemudian Matematika, dan yang terakhir Ilmu Pengetahuan Alam.

Kebiasaan yang saya lakukan bila anak selesai mengikuti ujian yaitu menanyakan, bagaimana ujiannya? Bisa tidak? Mengalami kesulitan atau tidak? Itu untuk mengetahui persoalan apa yang dihadapi anak dan bagaimana nanti solusinya. Bila menemui masalah atau persoalan sang anak menyampaikan kesulitan yang dialami dengan gaya anak yang lugu. Sebaliknya, bila lancar-lancar saja sang anak mengatakan dengan singkat, yaitu bisa, atau kadang disertai dengan menunjukkan lembaran hasilnya.

Sepulang mengikuti ujian Bahasa Indonesia, anak saya menyampaikan hal yang belum pernah dia alami sebelumnya, yaitu pada saat mengerjakan soal ujian salah satu guru sekolah tersebut masuk kelas dan menyampaikan jawaban dari soal yang ada sebanyak 20 jawaban.

Hari kedua mata ajaran yang diujikan Matematika, pertanyaan kepada anak tetap saya ajukan, dan si anak dengan penuh keheranan menyampaikan bahwa tadi ada guru yang memberi jawaban sebanyak 20 jawaban. Bisanya bapak dan ibu guru melarang kita nyontek pada saat ulangan, kenapa tadi dan kemarin gurunya kok malah memberi jawaban? Katanya ini ujian nasional, tapi kok begitu?

Selaku orang tua bagaimana kita menyikapinya? Bila hanya mengejar luaran (out-put), kita akan setuju dengan tindakan guru tersebut, dengan harapan anak kita bisa lulus Ujian Akhir Nasional. Bila kita mengkaji lebih dalam lagi akan dampak dari perbuatan guru tadi, pasti kita akan menolaknya, karena kita menghendaki anak kita tidak hanya pintar tapi jujur dan berbudi luhur.

Dengan melihat gejala yang ada, arah pendidikan di republik ini menuju ke proses kehancuran.

Kepada Bapak Menteri Pendidikan Nasional, bagaimana bapak menyikapi masalah riel di lapangan ini?

Mohammad N. Komplek Bappenas B1 Kedaung Sawangan Depok Jawa Barat.

fnnurandina@yahoo.com, 021-7410751 081311003020

Alangkah mirisnya mendengar ternyata ada juga kejadian seperti ini. Setelah banyak mendengar kebocoran soal untuk UN, aku sudah cukup lega dengan bersihnya pelaksanaan UASBN. Bahkan Mendiknas pun mengklaim bahwa pelaksanaan ujian nasional khususnya 2008 sukses. Namun ternyata surat ini langsung membuatku kecewa.

Kalau melihat pelaksanaan di beberapa sekolah dasar yang aku lewati sepanjang perjalanan, bahkan pintu gerbang pun ditutup rapat dan ditempel pengumuman hanya siswa dan pengawas ujian saja yang boleh masuk. Sangat mustahil kalau harus membayangkan ada guru sekolah tersebut yang bisa masuk dan memberikan jawaban seperti itu, karena pengawas pun adalah guru dari sekolah lain. Kalau ternyata ini terjadi, memang sangat disesalkan.

Semoga kejadian seperti ini hanya terjadi di sekolah ini saja, jangan sampai setitik noda ini mencoreng dunia pendidikan kita yang sekarang ini sedang menggeliat ke arah kemajuan yang sangat membanggakan, hal ini terbukti dengan setiap tahun kita selalu meraih medali dalam kejuaraan olimpiade mata pelajaran tingkat dunia. Mudah-mudahan kejadian ini tidak akan terjadi kembali pada masa-masa yang akan datang, dan kepada para pihak yang terkait mohon ini menjadi bahan koreksi untuk pelaksanaan ujian selanjutnya.

5 thoughts on “Kecurangan dalam UASBN SD Tahun 2008

  1. walah…serem banget to…di mananya yang salah kalo gini mbak, pantesan semakin banyak orang yang memilih Home schoolling, di mana salah satu alasannya adalah ketidakpastian kebijakan pemerintah di dunia pendidikan.

    ***Itulah, bahkan pemerintah dan kitanya udah niat bener, ternyata ada saja oknum yang menghalalkan segala cara seperti ini, sedih…***

  2. Susah ya…
    Orang banyak belum mengerti “tujuan” adanya UAN ini….

    ***Betul bu, tapi kita sekarang memang masih terus berproses, semoga suatu saat nanti apa yang kita impikan terhadap negeri kita tercinta ini akan tercapai, amin…***

  3. Isi tulisan artikel ini mirip dengan yang dialami anak saya yang bersekolah di kabupaten bogor, yang berbeda adalah jawaban yang dibacakan selama ujian lebih banyak, dan pada saat itu pengawas yang berasal dari sekolah lain juga berpura pura tidak tahu.

    ***Waduh, ternyata kasus baru bermunculan, yah, kita hanya bisa berharap agar ke depan hal ini tidak lagi terjadi, karena meskipun anak kita lulus tapi moralnya sudah tercemar oleh contoh buruk yang dialaminya. Terima kasih sudah sharing disini pak…***

  4. Sebenarnya kalau kita berada di lapangan hal-hal seperti itu banyak dilakukan terutama oleh oknum guru yang merasa anak didiknya belum siap. Buanyak cara ditempuh, misalnya pura2 pengawas ujian dipanggil kepala sekolah ke kantor untuk menerima penjelasan susulan (saat ujian sudah berlangsung)lalu guru masuk menjelaskan maksud soal atau bahkan memberi jawaban. Menjijikkan to ?

    ***Iya, saya juga masih mendengar beberapa versi lagi. Terima kasih atas komentar anda***

  5. dimana2 ceritanya sama saja. yg tau, mau memperingatkan serba sungkan. yang diperingatkan (kalaupun terjadi) uga gak tau malu dan merasa benar….

    Hapuskan ‘sungkan-isme’ !!

    ***Setuju! Terima kasih atas komentar anda***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s