Mendeteksi Resiko Finansial Pada Keluarga

Oleh: David Chiang

Hari ini saya ingin berbagi mengenai cara mendeteksi resiko finansial pada keluarga. Semoga bermanfaat bagi perencanaan finansial Anda.

Apa yang Dimaksud dengan Resiko Finansial?

Kita misalkan saja ada sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang Anak. Sang Ayah adalah karyawan dari perusahaan swasta dengan pendapatan 30 juta per tahun. Sementara Sang Ibu secara penuh berfungsi sebagai ibu rumah tangga. Pengeluaran rumah tangga selama setahun adalah 28 juta. Jadi laporan cashflow tahunan dari keluarga tersebut adalah:

Pendapatan
==========
Ayah:Rp.30.000.000,-
Ibu:Rp.0,-
Anak : Rp. 0,-

Pengeluaran
===========
Kebutuhan Rumah Tangga : Rp. 28.000.000,-

Net Inflow:
===========
Rp. 2.000.000,-

Apakah resiko finansial dari keluarga tersebut? Yang dimaksud resiko finansial dalam keluarga ini adalah adanya peluang terjadinya musibah yang menimpa Sang Ayah (seperti kecelakaan, penyakit kritis, bencana alam, meninggal) yang menyebabkan Sang Ayah tidak dapat bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Keluarga kehilangan satu-satunya pendapatan mereka, sehingga cashflownya menjadi:

Pendapatan
==========
Ayah : Rp. 0,-
Ibu : Rp. 0,-
Anak : Rp. 0,-

Pengeluaran
==========
Kebutuhan Rumah Tangga : Rp. 28.000.000,-

Net Inflow:
=========
(Rp. 28.000.000,-)

Walaupun sumber pendapatan sudah tidak ada, biaya untuk kebutuhan hidup tetap harus dibayar.Ibu dan Anak tetap memerlukan makanan. Terlebih lagi apabila Sang Anak masih sekolah/kuliah, secara berkala keluarga harus membayar biaya pendidikan. Untuk mempertahankan gaya hidup seperti sekarang, setiap tahun keluarga ini akan mengalami defisit sebesar 28 juta rupiah. Darimana dana yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan ini?

Tanpa adanya perencanaan keuangan yang baik, keluarga dalam waktu dekat akan mengalami kebankrutan. Segala harta yang ada akan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setelah hartanya habis, keluarga tersebut akan hidup dalam kemiskinan.

Nah disinilah muncul kebutuhan akan proteksi atau asuransi. Sang ayah seharusnya diasuransikan dengan nilai pertanggungan minimal dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga untuk 5 tahun. Untuk contoh ini, nilai pertanggungan minimal Sang Ayah adalah 28 juta x 5 tahun = 140 juta rupiah. Artinya jika terjadi musibah yang menimpa Sang Ayah, maka asuransi akan memberikan uang sebesar 140 juta rupiah kepada keluarga yang ditinggalkan.* Uang dari asuransi inilah yang akan digunakan oleh keluarga untuk memenuhi kebutuhannya dalam jangka waktu 5 tahun ke depan.

* Jenis musibah yang mendapat perlindungan asuransi bergantung pada jenis asuransi yang Anda beli. Baca polis asuransi untuk keterangan lebih lanjut.

Resiko Finansial untuk Keluarga dengan Dua Sumber Penghasilan.

Untuk contoh yang sama dengan diatas, namun kali kita misalkan ayah dan ibu bekerja. Jadi dalam keluarga terdapat 2 sumber penghasilan, yaitu Ayah dengan pendapatan tahunan 20 juta dan Ibu dengan pendapatan tahunan 10 juta rupiah. Misalkan pengeluaran rumah tangga keluarga ini sama dengan sebelumnya, yaitu 28 juta rupiah per tahun. Maka cashflow dari keluarga adalah:

Pendapatan
==========
Ayah : Rp. 20.000.000,-
Ibu : Rp. 10.000.000,-
Anak : Rp. 0,-

Pengeluaran
==========
Kebutuhan Rumah Tangga : Rp. 28.000.000,-

Net Inflow:
=========
Rp. 2.000.000,-

Dalam keluarga dengan dua sumber penghasilan, resiko finansialnya lebih kecil. Mengapa? Sebab Ayah dan Ibu dapat saling meng-cover apabila salah satunya mengalami musibah. Kita misalkan apabila Sang Ayah mengalami musibah sehingga tidak dapat bekerja lagi, maka cashflow keluarga menjadi:

Pendapatan
==========
Ayah : Rp. 0,-
Ibu : Rp. 10.000.000,-
Anak : Rp. 0,-

Pengeluaran
==========
Kebutuhan Rumah Tangga : Rp. 28.000.000,-

Net Inflow:
=========
(Rp. 18.000.000,-)

Dari cashflow diatas, kita dapat melihat bahwa keluarga tetap memiliki sumber pendapatan, yaitu dari Ibu sebesar 10 juta rupiah. Sayangnya pendapatan Ibu tidak cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan keluarga, sehingga terjadi defisit sebesar 18 juta per tahun. Disini kita bisa melihat bahwa defisit finansial keluarga lebih sedikit daripada contoh sebelumnya (28 juta per tahun untuk keluarga dengan satu sumber pendapatan). Oleh karena inilah saya mengatakan bahwa resiko finansial pada keluarga dengan 2 sumber pendapatan lebih kecil daripada keluarga dengan satu sumber pendapatan.

Yang perlu dilindungi oleh asuransi hanyalah defisit keluarga untuk minimal jangka waktu 5 tahun. Jadi disini nilai pertanggungan Ayah minimal 5 x 18 juta = 90 juta rupiah.

Namun, disisi lain, karena Ibu juga turut menjadi sumber penghasilan keluarga, maka Sang Ibu juga perlu dilindungi dengan asuransi. Mengapa? Mari kita lihat cashlow keluarga apabila terjadi musibah pada Sang Ibu sehingga Ibu tidak dapat bekerja:

Pendapatan
==========
Ayah : Rp. 20.000.000,-
Ibu : Rp. 0,-
Anak : Rp. 0,-

Pengeluaran
==========
Kebutuhan Rumah Tangga : Rp. 28.000.000,-

Net Inflow:
=========
(Rp. 8.000.000,-)

Karena sumber pendapatan keluarga dari Ibu hilang, maka keluarga menjadi mengalami defisit sebesar 8 juta per tahun. Jadi, disini Ibu juga perlu diasuransikan dengan nilai pertanggungan minimal 5 x 8 juta = 40 juta.

Jadi cara perhitungan nilai pertanggungan asuransi dilihat dari berapa besar defisit yang akan terjadi pada keluarga apabila sumber pendapatannya tidak dapat menghasilkan uang lagi. Dalam contoh diatas kebetulan pendapatan Ayah lebih besar daripada Ibu sehingga nilai pertanggungan asuransi Ayah lebih besar daripada Ibu. Dalam keluarga lain, mungkin saja yang terjadi malah pendapatan Ibu lebih besar daripada Ayah. Dalam hal ini keluarga akan mengalami defisit lebih besar apabila Ibu tidak dapat bekerja lagi, sehingga Ibu perlu diberikan asuransi yang lebih besar daripada Ayah.

Sekian dulu sharing dari saya. Semoga dapat membantu Anda dalam merencanakan proteksi bagi keluarga.

2 thoughts on “Mendeteksi Resiko Finansial Pada Keluarga

  1. Wah Mbak, sangat mencerahkan deskripsinya. terima kasih.
    Saya setuju kalo setiap keluarga perlu ikut asuransi.
    Hanya memang premi-nya jg akan sangat mengurangi
    daya konsumsi keluarga.
    Saya sekarang juga sudah mulai ikut asuransi, meski kalo diitung2
    sebenarnya lumayan mahal biaya preminya.

    Mungkin mbak Ida bisa ngasih jalur investasi lain yang lebih agresif tapi moderat agar pemodal2 kecil kita ini tidak
    tertelan begitu saja oleh perusahaan2 itu.
    Tentu saja dengan asumsi sebelumnya kita telah memiliki paket asuransi yg memang deal with extreme situation.

    TanQs.

    ***Mungkin bisa dicoba produk reksadana pak, setahu saya di mandiri kantor ada kok, lebih fleksible dan tidak ada premi, seluruhnya investasi. Kapan saja mau nambah ato ngambil mudah. Tapi harus disesuaikan dg tipe pribadi kita, kalo suka ambil risiko ya perbanyak di sektor pasar saham, kalo tengah-tengah ya fifty-fifty antara pasar saham dan pasar uang, ato kalo mau yg aman tapi hasilnya agak lebih tinggi dari deposito ya ambil yg dominan pasar uang. Semoga bisa membantu ya…, thx atas komentarnya…***

  2. Berawal dari musibah kakak saya, saya menyadari bahwa kehidupan itu rapuh adanya, yang berarti bahwa musibah setiap saat dapat menghampiri kita.Kesadaran akan pentingnya perlindungan atas RESIKO FINANSIAL harus ditumbuhkan supaya bisa memutuskan rantai kemiskinan yang ditimbulkan saat resiko itu benar-benar terjadi.Dengan memiliki perlindungan yang memadai kita memang harus memikirkan biaya ekstra untuk preminya, tapi justru dapat lebih tenang dalam mengatur perencanaan keuangan.Silahkan kirimkan informasi seputar pengeluaran bulanan dan data usia pencari nafkah keluarga anda melalui email kami, lalu kita diskusikan solusinya. Salam hangat untuk keluarga anda!!

    ***Terima kasih, informasi yang sangat penting…***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s