Romadhon Telah Datang Anakku

Dikutip dari Haniina edisi 004/1997

Persiapan Puasa bagi Anak-anak

Bulan Romadhon adalah bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam. Bulan utama dibandingkan bulan-bulan yang lain. Dalam bulan inilah Allah Azza wa Jalla memberikan berbagai keberkahan dan kemudahan. Inilah syahrul mubarokah (bulan berkah) karena merupakan bulan yang penuh berkah. 10 hari pertama Allah SWT mengucurkan rahmatnya (sehingga juga disebut syahrur rahmat/bulan penuh rahmat), 10 hari kedua Allah SWT memberikan maghfirohNya (ampunanNya) sehingga bisa disebut syahrul maghfiroh/bulan pengampunan, 10 hari ketiga Allah SWT memelihara manusia dari siksa api neraka. Di salah satu malamnya, Allah adakan Lailatul Qodar. Pahala sunnah (ibadah yang disunnahkan) sama pahalanya dengan ibadah wajib. Sedangkan pahala wajib dilipatgandakan menjadi 70 kali lipat.

Seolah-olah Allah hamparkan beragam kesempatan dan tinggallah kita sebagai hambaNya mau atau tidak mereguk dan meraih semua bentuk kasih sayang Allah tersebut. Bagi hamba Allah yang dengan segala keikhlasan dan kesadarannya, ia akan peroleh janji Allah. Dan bagi sebagian hamba Allah yang lupa maka mereka tidak akan temui keberkahan bulan ini. Jadilah bulan Romadhon sekarang berlalu seperti Romadhon yang lalu. Waktu terus berlalu, umurpun bertambah serta duniapun semakin tua untuk ditinggali. Allahu Akbar!

Bulan Romadhon pun juga sering disebut syahrut tarbiyah/bulan training. Kita dilatih untuk tidak makan, minum, dan menahan hawa nafsu sejak fajar hingga terbenam matahari. Bahkan kita ditraining untuk tidak manja dengan suasana musim. Karena bulan Romadhon kadang datang di berbagai musim yang berbeda. Umat Islam juga tidak diperbudak oleh kebiasaan. Karena dapat berlatih menahan hawa nafsu buruk (marah, bohong, menyakiti orang lain). Syahruth-tha’at (bulan taat) sebutan lainnya. Bulan melatih ketaatan kepada perintah dan larangan Allah. Yang terakhir sebutannya adalah syahrul A-Qur’an (bulan Al-Qur’an) bulan dimana awal turunnya Al-Qur’an. Pedoman hidup, cahaya penerang, obat/penyembuh penyakit dan sebagai pembeda antara yang hak/benar dengan yang batil/buruk-salah.

Begitu banyak manfaat dan keutamaan bulan Romadhon sehingga Rasulullah SAW dan para sahabat mempersiapkan diri dengan serius. Ada masa warming upnya. Dua bulan sebelum bulan Romadhon yaitu bulan Rajab dan Sya’ban, para sahabat dan para ulama telah melatih diri dengan memperbanyak shoum/puasa sunnah. Semangat berinfaq dan beribadah semakin mengental dalam kehidupan sehari-hari.

Ibarat lampu teplok, di bulan Rajab semprong lampu dan tempat minyaknya dibersihkan dan di bulan Sya’ban diisi dengan minyak, sumbunya diganti sehingga ketika bulan Romadhon datang lampu teplok bisa menyala dengan baik dan lama. Dengan kata lain, harus ada warming up dan persiapan luar dalam.

Apa yang perlu kita siapkan? Pertama, mungkin mempersiapkan fisik/jasad. Yaitu kalau punya penyakit berobatlah, latihan shoum sunnah. Rumah harus dibersihkan, dicat. Bahkan lantainya bukan hanya dipel tapi disikat. Juga berbelanja sebaiknya dilakukan sebelum Romadhon terutama yang tahan lama. Untuk persiapkan ruhiyah, sebaiknya kita mulai melatih bangun malam (qiyamulail – sholat tahajud) agar tidak kesiangan bangun sahur. Sesudah sholat subuh diusahakan untuk memegang dan mambaca Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum memegang yang lain. Mulailah kita belajar kembali mengenal pelafan huruf-huruf Al-Qur’an. Semakin lancar dalam membaca Al-Qur’an tentulah semakin mudah untuk berinteraksi dengan pedoman hidup kaum muslimin tersebut.

Menjauhkan diri dari kebiasaan yang bernilai syirik/menduakan Allah SWT. Juga saling memaafkan dari segala kesalahan sesama manusia. Terutama kepada orang tua, suami/istri, anak dan khodimah/pembantu tumah tangga dan kemudian kerabat serta handai tolan. Secara sederhana begitulah gambaran yang perlu kita persiapkan.

Tapi, bagaimana dengan anak-anak kita? Apakah yang perlu kita kerjakan dan persiapkan buat mereka ketika Romadhon menjelang? Apakah sudah kita (orang tua) mengetahui perkembangan terakhir fisik dan emosi si anak? Ataukah selama ini kita lebih sibuk mempersiapkan sesuatu buat anak yang berkaitan dengan lebaran semata? Ataukah (mudah-mudahan tidak) selama ini kita tidak pernah memikirkan untuk mensosialisasikan suasana shoum kepada sang anak?

Membiasakan Anak Shoum/Puasa Sejak Dini

Anak yang sholih dan sholihah adalah aset yang berarti bagi kedua orang tuanya, bagi ummat maupun bagi masa depan Islam. Ummat Islam membutuhkan generasi yang berdaya guna, yang terus berprestasi menyempurnakan bangunan Islam. Anak yang sholih dan sholihah adalah anak-anak yang sejak usia dini jiwanya dipenuhi dengan bimbingan keimanan. Anak sejak usia dini ditempa dengan akhlaqul karimah (akhlak yang baik). Yang makan dengan makanan halalan thoyyiban (halal dan baik), menerapkan pola hidup sehat dengan berolah raga dan hidup bersih. Yang akalnya diasah dengan ilmu yang berguna untuk dunia dan akhirat. Yang tumbuh dengan bi’ah sholihah (lingkungan yang sholih). Dan tentu saja anak yang sholih dan sholihah adalah anak-anak yang diusianya dini telah diakrabkan dengan aktivitas ibadah ilaLloh (kepada Allah).

Allah Maha Besar dan Maha Mengetahui. Maka didatangkanlah kepada manusia satu bulan yang luar biasa. Bulan Romadhon. Bulan yang baik bagi pengkondisian pembentukan anak yang sholih dan sholihah. Ini merupakan kesempatan baik untuk lebih dekat pada anak dan mensyiarkan/menyebarkan misi Rasulullah saw.

Kata Rasulullah saw bersabda: ”Ajarilah anak-anakmu sholat pada usia 7 tahun dan pukullah pada usia 10 tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya.” Abdullah Nashih ’Ulwan, seorang ulama pakar pendidikan dalam bukunya Tarbiatul aulad fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam) mengatakan bahwa perintah mengajar sholat ini dapat disamakan untuk ibadah lainnya seperti shoum. Proses pelatihan ini dapat saja dimulai lebih dini (kurang dari 7 tahun). Begitu pula jika kita lihat kisah para sahabat Rasulullah saw yang melatih anak-anaknya shoum hingga mereka perlu memboyongnya ke mesjid dan dihibur dengan mainan dari bulu bila anak-anak tersebut merengek minta makan. Meski hal ini tidak mendapat ketegasan dari Rasulullah berupa anjuran atau pelarangan tetapi tetap dapat dijadikan sebagai contoh betapa para sahabat sangat serius mendidik anak mereka beribadah dengan metode pembiasaan anak sejak dini dengan kegiatan ibadah.

Kaidah Melatih Anak Shoum

Dalam mendidik anak shoum di usia dini ini ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus terutama oleh pendidik dalam hal ini ibu dan bapak.

Pertama, anak-anak khususnya balita masih dalam proses tumbuh kembang. Supaya diperhatikan agar proses shoum tidak mengabaikan suatu kenyataan bahwa anak-anak terutama balita harus diperhatikan kebutuhan gizi dan tidur selama pelatihan berlangsung. Karena bila diabaikan kegiatan pelatihan ini bukan lagi bernama pendidikan tapi penganiayaan (pendzaliman) anak-anak yang dapat berakibat mengganggu proses tumbuh kembangnya.

Kedua, harus dipahami bahwa kegiatan ini adalah sebuah pelatihan, pengkondisian, pembiasaan, dan penyiapan anak agar akrab dengan aktifitas ibadah. Bukan sesuatu yang final sehingga kebijaksanaan yang diterapkan harus tetap fleksibel tergantung pada keadaan anak, umur, fisik, dan psikologisnya. Pendidik sebaiknya tidak menyarankan untuk shoum sampai jam tertentu, tapi bisa dilihat dan dicek sesuai dengan keadaan anak.

Ketiga, pendidik sebaiknya bersungguh-sungguh dalam niat dan azamnya (tekad) menerapkan pelatihan ini semata-mata karena Allah Azza wa Jalla bukan karena agar tidak malu bila ditanya teman: apakah balitanya shoum? Atau dapat berapa hari shoum anaknya?

Keempat, pendidik juga sebaiknya meluangkan waktu yang cukup untuk menemani anak dan memprioritaskan pelatihan shoum ini dibandingkan kegiatan lain.

Kiat Mendidik Anak Shoum Sejak Dini

Persiapan

Pertama, persiapan-ruhiyah. Anak-anak yang akan disertakan dalam pelatihan hendaknya dipersiapkan ruhiyahnya. Mulailah dengan menjelaskan kepada anak apa itu shoum secara santai dan pelan-pelan sesuai kondisinya. Sebaiknya tidak mengatakan kepada anak ’tidak boleh makan’ tapi gunakan istilah ’makannya di malam hari dan siangnya ditahan’. Sehingga tidak terkesan mengerikan bagi anak. Ditambah dengan cerita-cerita seputar Romadhon tentang pahala yang dilipatgandakan, kisah aktivitas Rasulullah dan para sahabat selama Romadhon, tentang lailatul qodar dan cerita lain yang sesuai dengan gambaran Al-Qur’an dan Hadits. Pendidik juga bisa bisa secara nyata dan langsung mensosialisasikan (sudah menggembar-gemborkan sebelumnya) dengan menanyakan siapa yang mau shoum disambung dengan siapa yang mau ikut makan sahur dan sholat tarawih.

Kedua, persiapan fisik. Pastikan anak-anak dalam kondisi prima pada awal Romadhon, bila perlu lakukan check kesehatan. Rumah pun perlu disiapkan untuk menyambut Romadhon. Berbelanjalah keperluan buka dan sahur (tentunya tetap berpatokan pada kesederhanaan dan tidak boros) juga bahan-bahan mentah yang awet untuk persiapan membuat kue lebaran. Baju lebaran pun sebaiknya dibeli sebelum Romadhon tiba selain untuk menggembirakan anak dan memotivasi anak untuk bersemangat dalam melaksanakan shoum. Karena setelah selesai satu bulan shoum boleh pakai baju baru juga menghindari kelelahan ibu karena belanja di saat shoum.

Ketiga, persiapan akal. Anak diakrabkan dengan hadits Shummu tashihuu (Shoumlah niscaya kalian akan sehat). Perlunya menerangkan bahwa alat pencernaan makanan dalam tubuh manusia makanan dalam tubuh manusia (pabrik penggilingan makanan) memerlukan waktu istirahat. Karena dia pun bisa lelah. Atau cerita sederhana yang lain, yang dapat dipahami akalnya bahwa shoum dianjurkan. Untuk lebih memudahkan kerja ada baiknya para orang tua melihatkan alat-alat pencernaan manusia melalui gambar atau bentuk lain yang menarik perhatian anak. Kalau memungkinkan terangkan pula beberapa masalah-masalah darurat yang menyebabkan orang boleh membatalkan puasanya.

Atau cobalah cara yang ini. Bawalah anak-anak silaturrahmi ke kantor untuk melihat orang yang bekerja di kantor juga shoum dengan menunjukkan tidak adanya gelas di mejanya. Atau ke tempat umum lain yang bisa mengesankan suasana puasa. Kalau memang ada waktu luang, ada baiknya memotivasi anak dengan melakukan ifthor (berbuka) bersama di masjid, panti asuhan, dan lain-lainnya. Suasana ini akan membekas pada perkembangan emosi si anak. Apalagi sebagai orang tua, kita dapat menjelaskan secara menarik perjalanan dan tempat yang telah dikunjungi.

Pelaksanaan

Pertama, mambangunkan sahur.

Bangun sahur adalah permasalahan terbesar bagi anak dan mungkin juga kita. Tentulah ada beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan agar tidak memberikan kesan trauma pada si anak. Sebaiknya tidak membangunkan anak dengan mengatakan “Ayo bangun makan sahur”. Atau hindarilah membuat suasana bangun pada sahur tersebut seperti suasana yang serba terburu-buru dan tegang. Tapi siapkan dulu makanan/minuman kesukaan anak dan bangunkan dengan menyebut makanan kesukaannya. “Kakak Zahara, pepayanya sudah siap, bangun yuk” atau “Bang Kamal air sirop, air madu dan teh manisnya sudah siap, yuk diminum.” Atau “Mas Adji sholeh, manisan mangganya sudah ibu siapkan, yuk dicobain…”

Ketika anak sudah bangun maka berikan terlebih dahulu makanan dan minuman kesukaannya. Makanan pokok untuk sahur sebaiknya dipotong-potong kecil-kecil (daging, sosis halal, ikan tongkol, dll) atau dalam bentuk fillet/diiris tipis-tipis. Makanan sahur harus disiasati yang tidak susah menggigitnya dan langsung kunyah sebentar dan mudah ditelan.

Jangan lupa juga sediakan telor rebus dan segelas susu terutama ketika anak sulit dibangunkan dan adzan subuh sudah dekat. Bisa juga menyediakan jus buah kental masukkan dalam botol dan simpan di lemari pendingin. Ketika anak bangun beri anak jus buah yang sudah dicairkan dengan air hangat. Minum jus buah akan membuat anak menjadi lebih segar dan intake/pemasukan cairan ke dalam tubuh anak lebih banyak tanpa disadari anak untuk menghindari dehidrasi (kekurangan cairan yang berbahaya bagi kesehatan anak). Kadang-kadang sahur dengan nasi terus menerus bosan, bisa diganti dengan kentang goreng ala fried chicken yang terkenal atau roti, siomay, bakso, yang penting gizi bisa masuk ke tubuh anak.

Kedua, saat shoum.

Bapak, Ibu, dan keluarga yang sudah besar lainnya diharapkan bekerja sama menjadikan rumah bersuasana puasa dengan tidak meletakkan makanan di tempat terbuka. Anak-anak akan tahu dengan sendirinya, bahwa ada yang berubah di rumah ketika pagi dan siang hari.

Tidak ada yang makan di depan anak yang menjadi peserta pelatihan, termasuk tidak menyuapi adik dihadapan para peserta.

Menjauhkan dari teman-teman yang tidak puasa.

Menjelaskan kepada guru bahwa ia puasa, dengan harapan guru maklum dan dapat membantu memberikan dorongan.

Bila anak merengek lapar besarkan hatinya, siapkan stok cerita sebanyak-banyaknya, ajak bermain atau kegiatan kreativitas yang tidak banyak membuang energi.

Siang hari upayakan untuk bisa tidur siang dengan anak sambil sebelumnya bercengkerama di tempat tidur.

Buatlah jadwal imsakiyah khusus untuknya, dengan gambar dan warna-warna yang menarik yang berfungsi pula untuk menghitung telah berapa hari ia shoum. Dan setiap bertambah satu hari balaslah dengan dekapan mesra, ciuman, pujian, atau hadiah sederhana yang dia inginkan.

Tetap waspada dengan situasi dan kondisi anak selama masa pelatihan. Karena bagaimana pun shoum/puasa itu bagi yang dewasa dirasa berat apalagi anak-anak. Meskipun demikian jangan terlalu khawatir dengan keadaan anak. Jika sahurnya cukup air/cairan dan makanan insya Allah anak tidak akan mengalami dehidrasi (kekurangan air) dan kekurangan energi.

Berikan hadiah yang menarik dan bermanfaat di akhir Romadhon sesuai dengan prestasi masing-masing anak. Boleh memberikan hadiah uang untuk menghargai prestasi ibadah shoum anak.

Ketiga, saat berbuka.

Sediakan makanan yang manis-manis terutama korma (3 butir korma sama dengan 2.000 kalori) bisa ditambah kolak dan jus buah. Kadang setelah makan yang manis-manis selera makan nasi dan lauknya jadi berkurang karena sudah terasa kenyang. Siapkan saja makanan untuk anak-anak setelah pulang sholat tarawih – biasanya anak merasa lapar. Atau kurangi kolaknya atau bisa juga disiasati dengan menanyakan kepada anak menu kesukaannya untuk berbuka puasa. Dengan tetap berpatokan pada full gizi dan aman bagi kesehatan (tidak terlalu asam, dingin, dan pedas) dan cukup cairan. Ajaklah anak untuk berpartisipasi menyiapkan acara berbuka.

Perlu juga dipikirkan untuk mengajak anak-anak terbiasa dengan suasana masjid di malam hari bulan Romadhon. Kalau dimungkinkan ajaklah mereka sholat bersama atau ikutkan mereka dalam suasana suka cita di masjid. Biarkan mereka menikmati dan melihat orang-orang asyik berzikir, bertilawah, sujud dan sebagainya. Anak-anak akan mengingat suasana ini sampai ia besar. Dan apabila mereka terbiasa, ini memudahkan kita untuk mensosialisasikan ajaran Allah lainnya.

Penutup

Mengharapkan anak sholih dan sholihah membutuhkan serangkaian rencana, persiapan dan tingkah laku nyata dalam pendidikan selain do’a. Melatih anak shoum sejak dini merupakan salah satu contoh kesungguhan orang tua untuk mewujudkan harapan yang mulia itu.

Menganjurkan anak shoum ibarat menabur benih di sawah yang hasil panennya tidak dapat langsung dan segera diperoleh melainkan melalui proses dan membutuhkan waktu. Peranan orang tua dalam hal ini dibutuhkan dan berpengaruh besar terhadap penghayatan dan pemahaman ibadah shoum pada anak. Adalah sesuatu yang mustahil bila orang tua mengharapkan anaknya taat kepada Allah SWT, sementara orang tua tidak menganjurkan, mengarahkan, dan mencontohkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan semakin besar kesadaran peran orang tua dalam pembentukan kepribadian, konsep diri, citra diri dan penanaman nilai-nilai agama pada diri anak, insya Allah akan semakin besar pula kesungguhan dan kesabaran orang tua dalam mendidik anak. Disertai dengan do’a yang tak kunjung putus dimohonkan kepada Allah semoga akan lahir generasi Islam yang kenyang iman, tinggi ilmu, kuat amalnya, serta luhur budi pekertinya. Amin.

“Ya, Robb kami anugerahkanlah kami isteri-isteri kami sebagai penyenang hari dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Wallahu a’lam bishowab.

Ery Soekresno/Irwan Rinaldi

Sumber/Nara Sumber:

-Wulansari, dra psi. Berpuasa bagi anak-anak dan dampaknya secara psikologis.

-Sri Utami, dra. Kiat mendidik anak shoum sejak dini.

-Nara sumber lainnya.

2 thoughts on “Romadhon Telah Datang Anakku

  1. Assalamualaikum..

    Wah, masih sempat ngblog ya..??
    Artikelnya ku-copy ya.? Thanks

    ***Eh, apa kabar, akhirnya berkunjung juga. Sempet sih buka-buka internet, tapi biasanya kalau lagi gak sempet ya beberapa hari gak pernah diupdate. Mungkin nanti kalau masuk KPPN Percontohan udah gak bisa lagi ya hehe… Monggo kalau mau ngopy…***

  2. asw,apa kabar mbak ery? jazakillah atas artikelnya.kebetulan besok ngisi sanlat anak2 ttg shoum sehat bagi anak,alhamdulillah,semoga menjadi investasi akhirat.

    ***Ibu, artikel ini memang sangat bermanfaat. Saya pribadi juga mengucapkan terima kasih kepada penulis, alhamdulillah, pelajaran puasa bagi anak saya menjadi lebih mudah. Semoga Allah SWT membalas jasa beliau, amin. Terima kasih atas kunjungannya…***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s