Krisis, Suatu Pembelajaran Berinvestasi

Oleh: Eko Endarto

Dikutip dari Kontan, Oktober 2008

Sepertinya kata baru yang popular di tahun 1997-1998 dan kita harapkan untuk tidak lagi kita ucapkan harus kembali terdengar. Krismon, kata yang paling popular diucapkan di tahun tersebut saat ini kembali ada di tengah masyarakat. Walaupun banyak pengamat ekonomi berkata bahwa situasi saat ini berbeda dengan saat 10 tahun lalu, tapi kekuatiran seseorang tetap sama yaitu bagaimana dengan investasiku?

Beberapa klien yang saya tangani sudah mulai menelepon, beberapa bertanya apa yang harus dilakukan menghadapi situasi ini? Bagaimana dengan investasinya yang sedang berjalan? Apa yang akan terjadi dengan investasinya yang turun?

Panik?

Salah satu himbauan yang paling sering dikeluarkan saat ini adalah jangan panik.Kata ini menjadi kata ajaib yang sangat sering diucapkan mulai dari Customer Serive bank sampai dengan Presiden kita. Banyak alasan yang bisa menjadikan orang menjadi panik, dan tentunya banyak juga alasan yang bisa dikeluarkan untuk mengcounter hal tersebut. Sebagai seorang perencana keuangan kata ini juga yang saya keluarkan kepada beberapa klien yang bingung harus berbuat apa terhadap investasi mereka.Tapi tentu saja pernyataan ini keluar bukan tanpa alasan.

Setiap klien yang kami tangani telah memiliki tujuan dalam berinvestasi, dan tentunya pemilihan portofolio produk investasi sangat ditentukan oleh tujuan keuangan mereka. Kalau kita telah mengatur portofolio dengan baik, seharusnya kita tidak perlu panik dengan keadaan ini. Alasan saya sederhana saja, saat ini investasi yang sedang rontok adalah investasi dengan risiko tinggi dan hasil tinggi contohnya saja saham dan reksadana saham. Dalam suatu portofolio investasi, biasanya produk ini adalah produk untuk tujuan jangka panjang, artinya kita membutuhkan hasil investasinya masih dalam jangka waktu yang lama katakanlah 10 tahun ke depan. Jadi kalau memang dibutuhkannya masih lama kenapa harus kita panik dengan keadaan sekarang ? takut rugi ? toh Anda tidak akan rugi kalau Anda tidak merealisasikan kerugiannya saat ini (saham dijual atau reksadana di redemt). Jadi kalau portofolio investasi kita sudah benar yaitu produk risiko tinggi untuk jangka panjang, saat ini seharusnya kita gembira karena dengan jumlah investasi yang sama kita mendapatkan unit penyertaan atau lembar saham yang lebih besar. Namun bagaimana dengan investasi risiko rendah dan menengah kita ? nah ini baru yang menjadi masalah. Karena kita akan membutuhkan hasil investasi kita lebih cepat daripada produk investasi jangka panjang, maka kita perlu panik dengan investasi kita. Tapi sepertinya pemerintah sudah mengantisipasinya dengan benar tuh. Produk investasi jangka menengah dan pendek disesuaikan imbal hasilnya dengan maksud agar hasil investasinya tidak tergerus oleh krisis. Suku simpanan jangka pendek dinaikkan, obligasi dikeluarkan dengan bunga bersaing jadi kenapa harus panik?

Tenang, Rasional dan Jernih

Presiden SBY dalam salah satu pidatonya menyebutkan rakyat harus tetap Tenang, Rasional dan Jernih. Saya coba menelaah ke tiga kata tersebut dalam konteks investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan

1. Tenang

Bila kitta telah berinvestasi secara benar yaitu menjadikan produk investasi seperti saham, reksadana atau apapun itu hanya sebagai sarana dan bukan sebagai tujuan, maka seharusnya kita tetap tenang. Ibarat kendaraan, saat ini kendaraan kita mungkin sedang bermasalah karena pengaruh dari luar. Memang perjalanan kita mencapai tujuan menjadi sedikit terhampat, tapi bukan berarti tidak akan tercapai kan. Kalau tujuan itu masih jauh, hambatan ini bisa kita gunakan untuk melakukan evaluasi guna mencapai tujuan. Misalnya kalau dulu Anda tidak bisa membeli saham bluechip karena harganya sangat tinggi, maka inilah saatnya. Atau dahulu Anda hanya bisa bermimpi untuk memiliki unit penyertaan salah satu Reksadana unggulan karena NAB-nya terlalu tinggi, maka saat ini hal itu bisa diwujudkan. Jadi tetaplah tenang, ambil dampak baik dari krisis ini.

2. Rasional

Kata ini mungkin cukup membingungkan, apa hubungannya rasional dengan investasi saya? Begini, kita memang layak untuk was-was pada perkembangan investasi kita. Bayangkan dahulu saat berinvestasi kita harus mengeluarkan A rupiah ternyata akibat krisis investasi kita tinggal separohnya. Supaya tidak tambah turun, maka investasi itu harus ditarik. Ini benar bila kita salah meletakkan dan memilih produk investasi. Kalau Anda berinvestasi di produk dengan hasil tinggi dan risiko tinggi untuk tujuan jangka pendek, maka mau tidak mau ini yang harus Anda lakukan. Tapi bila Anda sudah berinvestasi benar yaitu berinvestasi untuk jangka panjang di produk yang berisiko tinggi dan hasil tinggi, maka ini hanya sebagian kecil gejolak yang pasti akan terjadi dalam perjalanan panjang investasi kita. Tidak harus kita tarik investasi kita karena toh kita belum membutuhkannya, kalau ada yang melakukan itu mungkin mereka telah salah mengambil produk, atau mereka bukan investor tapi trader yang memang pekerjaannya mendapatkan untung sesaat. Jadi kita harus rasional, fokus pada tujuan yang ingin dicapai dan jangan terpengaruh pada mereka yang telah salah atau trader.

3. Jernih

Untuk apa kita berinvestasi? Berapa lama tujuan kita? Apakah memang kita butuh untuk mengambil uangnya saat ini? Mungkin pertanyaan ini harus kita tanyakan sebelum kita lebih jauh bertindak. Tujuan kita untuk pensiun,masih 10 tahun ke depan, dan saya tidak butuh dananya saat ini; lagi pula krisis ini bukan karena masalah di produk investasi saya, jadi kenapa harus dilepas? Takut rugi? Tentu saja Anda akan benar-benar rugi bila Anda menarik investasi Anda.namun bila tidak investasi Andatetap jalan. Tidak bisa kembali ke harga asal ? ingat kembali Anda berinvestasi di produk yang memberikan imbal hasil tinggi jadi tidak sulit untuk produk itu kembali ke posisi awal dalam 10 tahun ke depan. Jadi saran saya jernihkan pikiran sebelum kita ambil keputusan. Jangan sampai kita hanya menjadi permainan para spekulan yang mengambil keuntungan dari ketidak tahuan kita.

Salam.
Eko Endarto
Perencana Keuangan

2 thoughts on “Krisis, Suatu Pembelajaran Berinvestasi

  1. Panik? Ngga tuh… soalnya aku ga punya investasi apa-apa…😀
    Numpang mampir bentar Mas Eko.. Aku temennya Ida…

    ***Hahaha… yang panik bank di deket rumah elo kali Nis, udah ribuan jurus dikeluarkan untuk merayumu gak berhasil juga… Makasih ya Mas Eko udah boleh ngasih temen saya ini lewat…hihihi…***

  2. Secara teori bagus, tapi banyak kesulitan kita untuk memulainya, dari berapa modal yang disisihkan untuk membeli harta produktif, pengetahuan untuk membeli harta produktif dan resikonya,
    Bila sudah cukup pengetahuan dan modal kurang mencukupi dapat kami bantu solusinya, silahkan intip http://www.solusi-dana.co.cc

    ***Thx infonya…***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s