Ketika Cinta Bertasbih

Siapa pun yang telah membaca suatu novel dan kemudian novel itu difilmkan pasti sangat antusias untuk mengetahui bagaimana versi filmnya. Tak terkecuali juga dengan aku. Setelah tamat membaca Ketika Cinta Bertasbih (KCB), rasanya nggak afdhol kalau nggak nonton filmnya. Begitu mulai diputar ternyata sesuai dengan perkiraan, antrian tiketnya mebludak, persis seperti Laskar Pelangi waktu itu. Akhirnya hari kedua baru bisa nonton, alhamdulillah…

Resensi film ini menurutku secara keseluruhan bagus, sangat sesuai dengan alur cerita dalam novelnya, bahkan dialognya pun sebisa mungkin disamakan dengan yang ada di novel. Hal ini cukup berbeda dengan Laskar Pelangi yang versi novel dan filmnya punya kekuatan masing-masing pada jalan ceritanya. Para pemainnya lumayan untuk ukuran pendatang baru, walaupun satu dua orang masih sangat kaku untuk berakting di depan kamera. Agak mengganggu sih, tapi itu memang konsekuensi dari audisi yang telah dilakukan sebelumnya, berarti mereka memang terbaik di antara para pesaingnya.

Yang asyik dari versi filmnya adalah adegan-adegan yang ditonjolkan memang yang mempunyai kekuatan lebih pada masing-masing kalimat dalam novelnya. Jadi kalau pas sedih ya sedih banget, kalau pas lucu ya lucu banget. Siplah pokoknya. Kita yang tahu persis apa yang akan dilakukan oleh si A misalnya sudah mempunyai ancang-ancang untuk tertawa, dan begitu benar-benar terjadi tinggal meledaklah tawa itu… ramai, kompak penonton satu studio semua.

Satu hal yang membuat kami berteriak hirsteris karena memang tidak menyangka sebelumnya, yaitu pada adegan puncak tiba-tiba muncul tulisan “to be continued”… Ha? beneran kaya di novelnya? Hiks, apa mungkin karena sutradaranya belum baca novel keduanya ya, jadi sengaja diputus begitu…;)

Terpaksa deh, pulang dengan hati kecewa, ngomel merasa tertipu…hehehe…tapi kalau dipikir-pikir ya itulah film berdasarkan novel yang terdiri dari dua epidode…gak salah sih…tapi kitanya yang tidak terinformasi sehingga nggak siap pada saat tulisan itu muncul…

Ok deh, ditunggu ya lanjutannya… Semoga tidak terlalu lama sehingga kita juga nggak terlalu lupa dengan adegan-adegan dalam novel kedua. Para pemainnya harus lebih banyak main sinetron dulu deh, biar nggak kaku hehe…

2 thoughts on “Ketika Cinta Bertasbih

  1. LAYAKKAH BUAT JAGOAN2 KECILKU JUGA MBAK ? pengen nonton. tapi..jangan2 ga layak buat krucil2 itu…🙂

    ***Sepertinya jangan ya bu, terlalu dewasa jalan ceritanya, all about love. Masih banyak kok yang sekarang lagi diputer untuk segala umur, saranku sih nonton yang lain aja ya. Kalo mamanya sih buoleh buanget hehe…

  2. salam kenal…
    yahhh.. saya sih menghargai-menghargai aja hasil kerja sineas indonesia.. oleh karena itu,, saya bikin blog tentang mengkritik film,,, siapa tau bisa jadi pegangan para sineas dengan melihat kritik-kritik dari penonton untuk film film yang ada… jadi bisa lihat reaksi penonton dan belajar dari kritikan penonton tersebut.. untuk itu,, coba deh lihat blog saya dan komentarin bila berkenan…

    http://kritikpenonton.wordpress.com

    terima kasih
    -djd-

    ***Terima kasih, blog anda sangat bermanfaat bagi kami…***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s