Jalan-jalan Medan – Banda Aceh

Moment cuti bersama dan liburan sekolah saat tahun baru kemarin sangat sayang jika tidak dimanfaatkan untuk jalan-jalan. Berangkat Sabtu dinihari, jam 03.00 persis meluncur dari rumah. Berbekal panduan GPS, tidak ada halangan berarti sepanjang jalan yang dilalui. Rute yang ditempuh mulai dari Medan, Binjai, Pangkalan Brandan, Langsa, Lhokseumawe,  Bireun, Sigli, dan berakhir di Banda Aceh. Kami bawa bekal untuk makan pagi dan makan siang, jadi tidak perlu berhenti di rumah makan, namun sempat beberapa kali berhenti di pom bensin untuk numpang ke toilet sekaligus isi bensin. Ternyata tidak semua jalan yang dilalui mulus seperti yang dibayangkan, ada beberapa titik yang masih rusak, dan ada pula yang sedang dalam perbaikan. Dengan kecepatan sedang, sampailah kami di kota Banda Aceh pukul 16.00, dengan total waktu tempuh 13 jam.

Menginap di Hotel Madinah, Jl. Muhammad Daud Beureuh, yang sudah kami telpon 2 hari sebelumnya untuk pesan 2 kamar. 1 kamar suite dengan 1 tempat tidur besar dan 2 tempat tidur kecil, serta 1 kamar delux dengan 2 tempat tidur kecil (kami ber-6 ½ hehe..).  Malam itu kami isi dengan makan malam di Mie Razali, Jl. Panglima Polem. Setelah kenyang dan semua mengantuk, kami langsung kembali ke hotel untuk istirahat.

Pagi setelah sarapan dan ritual nonton Doraemon setiap minggu pagi, kami siap untuk mulai menjelajahi Banda Aceh. Tujuan pertama ke Museum Tsunami, depan Lapangan Blang Padang. Museum ini sungguh mengagumkan, membuat kenangan dan pengetahuan kita akan kejadian 26 Desember 2004 menjadi semakin jelas tergambar.CIMG3473

Tujuan kedua ke Masjid Raya Baiturrahman, masjid kokoh yang tak bergeming kala tsunami melanda.

CIMG3478

Lalu kami makan siang di Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk, Jl.Banda Aceh-Medan, Lueng Bata, menikmati Ayam Tangkap dan Dendeng Sapi khas Aceh.

CIMG3486

Perjalanan dilanjutkan ke Kapal PLTD Apung yang kandas sekitar 5 kilometer ke daratan saat tsunami terjadi. Sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana suasana saat kejadian itu, karena kapal PLTD Apung ini sangat besssaaarrr sekali.

CIMG3519

Sore kami ke Pantai Lhoknga dekat Pelabuhan Ulee Lheue, makan jagung bakar sambil menikmati suasana pantai yang indah. Pantai tenang yang berubah sangat garang saat tsunami. Lalu kami lanjut menelusuri pantai lagi, menuju pantai yang lebih luas dan lepas, Ujong Batee. Salah satu pantai yang cantik di Selat Malaka. Menjelang matahari tenggelam, kami kembali ke hotel untuk bersih-bersih diri.

CIMG3533

Malam, agenda makan malam kami isi dengan makan Sate Matang di emperan toko di Jl. WR Supratman setelah lebih dulu mampir di toko souvenir di sekitar situ juga untuk membeli beberapa oleh-oleh.

CIMG3543

Malam itu kami tutup dengan acara anak-anak, main berbagai game di Funland, Jl. Panglima Polem. Yup…rangkaian sehari di Banda Aceh usai sudah dengan senyum kepuasan.

Senin pagi jam 08.30 kami meninggalkan hotel, kembali menelusuri jalur yang sama seperti saat berangkat. Sempat kami 2 kali berhenti makan dan beberapa kali istirahat di pom bensin. Sayang, perjalanan tidak semulus saat berangkat. Setelah maghrib, di setiap kota yang kami lalui sudah mulai macet dengan kendaraan yang merayakan malam pergantian tahun. Namun ternyata ada hikmahnya juga, dengan sedikit terhambat seperti itu, kami justru tiba di Ringroad Medan tepat jam 23.30, saat detik-detik pergantian tahun terjadi. Pesta kembang api seakan menyambut kedatangan kami malam itu hehe.. Alhamdulillah, semua lancar sesuai rencana. Sayang memang, tidak sempat menyeberang ke Sabang, waktunya terlalu sempit. Semoga lain hari bisa terwujud🙂

8 thoughts on “Jalan-jalan Medan – Banda Aceh

  1. Kalau seandainya Jalan Medan – Banda Aceh ada jalan bebas hambatan atau Jalan Highway, perjalanan anda bisa 5 s/d 6 jam dengan biaya perjalanan 350 ribu s/d 450 ribu sdh termasuk membayar tol, saya yakin perjalan medan b aceh anda mengeluarkan sekitar 800 ribu s/d 1,2 juta one way, jadi penelitian 2012 ada 14000 kenderaan dari dan ke B. Aceh, bila stiap kenderaan dapat menghemat 500 ribu sekali jalan maka uang masyarakat pengguna jalan dihambur dijalan 14000 x 500000 sekali jalan = 7 milyar/hari atau 210 milyar/bulan atau 2.520 trilyun/tahun. Itulah sebetulnya uang yang seharusnya menjadi kesejahteran pengguna jalan, hilang dijalan membayar kelamaan waktu tempuh, seharusnya bisa 6 jam menjadi 13 jam seperti yang anda alami. Oleh karena itu saran kepada Pemerintah agar membangun jalan Highway sebelum macet lebih parah seperti di Jakarta, sedangkan di Jakarta sudah macet 5 tahun baru dipikir, sudah tahun ke 10 macet belum terjawab sehingga kemacetan semakin parah. Di negara tetangga kita 3 tahun sebelum macet sudah dipersiapkan pembangunan jalan alternatif sehingga tidak terjadi kemacetan, kalaupun terjadi tidak separah negara kita. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s