Tiket Kereta Edisi Lebaran

Sudah beberapa hari ini Mbak Devi protes kepadaku, “Mbak, mana postingan barunya?” Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman, “belum ada semangat buat nulis, masih cape fisik dan mental…” Tahu kenapa? Perjuangan membeli tiket kereta edisi lebaran saudara-saudara…

Seperti tahun-tahun yang lalu, 30 hari menjelang hari-H lebaran selalu menjadi tradisi untuk rajin ngapel ke Gambir, demi memenuhi keinginan yang kuat untuk pulang kampung saat lebaran. Tapi ternyata tahun ini tidak seberuntung tahun-tahun yang lalu. Sampai hari ini (berarti pemesanan untuk pemberangkatan tanggal 28 September) aku masih belum juga bisa mengantongi tiket kereta kesayangan Gajayana. Sedihnya… Dari mulai tanggal 26 Agustus (untuk pemesanan tanggal 25 September) aku sudah mulai survey dari jam 5 pagi, rencananya akan mulai ngantri besoknya. Ada tiga loket yang dibuka, aku tanya orang yang ada di urutan pertama katanya ngantri dari jam 9 malam (nah lo…), terus sekitar urutan ketiga datang jam 3.30 pagi. Oke, berarti aku harus berangkat lebih pagi besok, tekadku.

Besok paginya aku berangkat dari rumah jam 2 pagi, ternyata begitu sampai disana, aku mendapat nomor urut di atas 30. Padahal loket yang dibuka ada 5, berarti ada sekitar 150 orang yang mengantri di depanku. Langsung deh pesimis. Akhirnya pagi itu rencana kami berubah, kami coba ke Stasiun Tanah Abang, alhamdulillah dapat urutan ke 5. Setelah lama ngobrol kami baru sadar kalau di Tanah Abang ternyata 1 orang pengantri hanya boleh memesan untuk 2 orang. Wah, bagaimana dengan kami yang akan pesan untuk 5 orang dengan hanya 1 orang pengantri, sedangkan dalam bayangan kami minimal dapat mengantri 4 tempat duduklah. Setelah melihat kenyataan ini, akhirnya aku coba untuk booking tiket Garuda, alhamdulillah dapat yang harga promo dan issued boleh sampai tanggal 9. Lumayan lega, dapat cadangan pilihan, tapi kalau membayangkan harga tiket (meskipun promo) dan harus ada tambahan dana untuk taxi dari Surabaya membuat kami bertekad untuk tetap berusaha, siapa tahu berhasil dapat tiket kereta.

Kami meninggalkan Tanah Abang jam 6 karena sudah pesimis (pengalaman tahun lalu, aku ngantri urutan pertama di Tanah Abang tapi tetap gak dapat tiket Gajayana karena begitu dibuka sistemnya Gajayana sudah langsung habis.. “Bagaimana bisa ya?”). Mulai jam 7 aku coba terus menerus untuk menelpon pemesanan tiket kereta online PT KAI, jam 8 baru nyambung, dan bisa ditebak, Gajayana habis. Aku dapat Argo Bromo Anggrek, tapi akhirnya kami lepas ke teman yang ingin ke Surabaya, karena sudah terbayang setelah cape berkereta ke Surabaya harus menempuh perjalanan minimal 3 jam lagi.

Hari Kamis tetap usaha lagi, tetapi melalui telepon dan agen perjalanan, hasilnya tetap nihil. Teman kami yang mengantri dari jam 9 malam hanya dapat urutan nomor 7. Katanya begitu urutan ke 2, tiket Gajayana sudah habis, jadi dia dapat Bima. Wah, ada sedikit rasa syukur juga kami tidak memaksakan diri untuk mengantri lagi pagi itu, kalau ternyata tetap tidak dapat. Hari Jumat pagi ini aku juga usaha lagi melalui telepon, hasilnya sama, habis semua untuk jurusan Jawa Timur. Kesimpulan dari cerita yang panjang ini adalah tanda tanya besar, “lalu usaha apa lagi yang harus kami tempuh untuk dapat tiket kereta Gajayana lebaran?” Sedihnya… Anybody can help us???